Senin, 06 Oktober 2008

Dampak Resesi di Amerika dan Bagaimana Mensiasatinya

Apa itu Sub Prime Mortgage?
Munculnya masalah sub prime mortgage di Amerika dimulai pada awal tahun 2007. Banyak orang (termasuk juga mahasiswa saya) bertanya-tanya apa sih sebenarnya sub prime mortgage itu? Hal tersebut wajar, mengingat di Indonesia memang belum ada instrumen/surat berharga investasi seperti itu. Sub prime mortgage sebenarnya adalah suatu instrumen/surabt berharga derivatif. Instrumen derivatif adalah suatu instrumen yang diterbitkan atas dasar instrumen lain yang disebut instrumen induk. Di Amerika ada lembaga-lembaga keuangan yang secara khusus memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk kepemilikan rumah yang bersifat jangka panjang yaitu 10-30 tahun (di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Bank BTN/Bank Tabungan Negara). Pinjaman tersebut merupakan pinjaman yang dijamin dengan rumah yang dibeli tersebut. Tidak seperti di Indonesia, lembaga-lembaga keuangan di Amerika dapat menjual surat-surat hutang tersebut kepada para investor yang berminat. Lembaga-lembaga keuangan tersebut dapat segera memperoleh uang kas atas penjualan surat-surat tersebut dan dapat meminjamkannya lagi kepada masyarakat. Disisi lain para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut setiap bulan akan memperoleh cicilan pengembalian dari para penghutang sampai dengan jatuh tempo.

Mengapa Banyak Lembaga Keuangan Non Bank Komersial Kolaps?
Umumnya para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut adalah para lembaga keuangan (bank komersial dan non bank komersial), khususnya lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi dan lembaga-lembaga investasi. Mengapa bank komersial tidak tertarik dengan instrumen tersebut karena bank komersial memiliki penabung (sumber dana) yang sifatnya jangka pendek (deposito memiliki waktu jatuh tempo antara 1 bulan sampai 1 tahun) sehingga tidak cocok jika dana yang diperoleh dari nasabahnya diinvestasikan pada suatu instrumen dengan jangka waktu yang sangat panjang (yaitu 10-30 tahun). Sedangkan lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi, dan lembaga keuangan memiliki nasabah (penabung) yang bersifat jangka panjang (diatas 10 tahun) sehingga memiliki kesesuaian dengan karakteristik surat berharga tersebut (sub prime mortgage). Dapat kita lihat beberapa lembaga keuangan non bank komersial seperti Lehman Brother, Merril Lynch (Lembaga investasi), AIG (lembaga asuransi) mengalami masalah keuangan yang cukup serius dan beberapa menyatakan bankrut/pailit akibat dari tingginya kredit macet di sektor perumahan.
Saya memperkirkan bahwa naikknya harga minyak yang mencapai lebih dari US100 per barel merupakan salah satu penyebab utamanya tingginya kredit macet tersebut. Seperti kita ketahui bahwa konsumsi energi di Amerika Serikat mencapai 30% konsumsi energi dunia. Dapat kita bayangkan bahwa negara Amerika sangat tergantung sekali pada minyak bumi. Saya ingat pada saat saya masih kuliah di Amerika pada tahun 2003 harga bensin per galon (1 galon = 3,9 liter) sebesar kurang lebih $1,7, pada saat itu harga minyak kurang lebih $70 per barel. Sedangkan pada pertengahan tahun 2008 saat harga minyak mencapai $130 per barel, saya memperoleh informasi bahwa harga minyak di Amerika mencapai kurang lebih $3-3,5 per galon. Peningkatan harga minyak tersebut memicu inflasi yang cukup tinggi di Amerika sehingga memangkas pendapatan riil rakyat Amerika. Peningkatan biaya hidup akibat peningkatan harga minyak menyebabkan peminjam tidak mampu lagi membayar cicilan pinjaman rumah mereka sebagai akibatnya angka kredit macet di sektor perumahan di Amerika melonjak (mencapai $700 milyar atau Rp.7.000 triliun dengan kurs $1=Rp.10.000,-). Gagal bayar para peminjam di sektor perumahan menyebabkan investor yang membeli surat-surat berharga tersebut (sub prime mortgage) mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifkan sehingga pada akhirnya mereka mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran bunga/hasil investasi kepada para nasabahnya/penabungnya.

Dua Skenario Pemerintah Federal dalam Mengatasi Kredit Macet
Nilai kredit macet yang fantastis tersebut memaksa pemerintah Federal Amerika untuk bertindak sebelum banyak lagi lembaga keuangan mengalami kolaps dan perekonomian Amerika akan terjerumus kembali seperti pada masa Great Depression pada tahun 1930. Ada beberapa skenario yang dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk mengatasi kredit macet tersebut.
Skenario pertama, membentuk suatu lembaga khusus untuk menangani masalah kredit macet tersebut. Skenario ini mirip seperti yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ketika mengalami krisis ekonomi tahun 1997 dengan membentuk lembaga yang bertugas untuk menangani kredit macet yaitu BPPN. Namun dengar pendapat di Kongres antara Gubernur Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), Menteri Treasury (Menkeu), dan anggota Senat menunjukkan bahwa para senator baik dari partai republik maupun demokrat enggan untuk menyetujui pemberian dana talangan sebesar $700 milyar kepada lembaga-lembaga keuangan yang kolaps. Alasan yang mendasari keputusan tersebut adalah bahwa kesalahan tersebut (kolapsnya lembaga-lembaga keuangan) adalah murni karena kesalahan manajemen perusahaan keuangan sehingga pemerintah Federal tidak dapat memberikan bantuan dana yang berasal dari pajak. Dengan kata lain, tidak sepantasnya seluruh rakyat Amerika menanggung beban kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan para pengelola lembaga keuangan. Jika skenario pertama ini gagal maka kemungkinan pemerintah Federal Amerika akan melakukan skenario kedua.
Skenario kedua, adalah dengan mengundang para investor asing untuk menyuntikkan modal dan mengambil alih saham-saham perusahaan tersebut. Para investor yang mampu menyuntikkan dana dengan jumlah yang sangat besar tersebut, kemungkinan berasal dari Arab Saudi, China, dan Jepang. Masalahnya apakah rakyat Amerika dan pemerintah Amerika rela untuk melepas kepemilikan terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menjadi icon kebanggaan Amerika tersebut.
Keberhasilan pemerintah Federal Amerika untuk menyelesaikan masalah kredit macet tersebut merupakan kunci keberhasilan Amerika untuk keluar dari resesi ekonomi. Namun itu semua tidaklah semudah membalikkan tangan, dimana masih banyak ujian dan masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya nanti sehingga diperlukan waktu yang cukup panjang untuk melihat keberhasilan tersebut.

Dampak Resesi di Amerika
Dampak dari peristiwa yang terjadi di Amerika secara langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain adalah:
Pertama, adalah turunnya kepercayaan investor pada lembaga-lembaga keuangan non bank komersial sehingga kemungkinan investor akan memindahkan sebagian dananya dari lembaga keuangan non bank komersial kepada bank komersial. Dengan kata lain, reputasi dari bank-bank komersial akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang sehingga bagi anda yang bergerak di pasar modal, disarankan untuk mencermati saham-saham perusahaan perbankan. Sedangkan asuransi, dana pensiun dan perusahaan investasi untuk sementara sebaiknya dihindari.
Kedua, kredit macet sektor properti di Amerika juga akan menurunkan reputasi saham-saham sektor properti di Indonesia dan sebaiknya dihindari.
Ketiga, resesi di Amerika akan menurunkan perekonomian dunia secara global sehingga pertumbuhan ekonomi dunia akan cenderung untuk turun. Selain itu bagi negara-negara yang memiliki hubungan dagang dan investasi cukup tinggi dengan Amerika juga akan terkena dampaknya secara langsung termasuk Indonesia.
Keempat, investor cenderung akan lebih berhati-hati dalam menginvestasikan dananya. Investor akan melakukan reposisi terhadap portofolio mereka dengan tujuan agar risiko investasi dapat ditekan. Kemungkinan pengurangan risiko dilakukan dengan manarik sebagian dana dari negara-negara yang memiliki tingkat risiko investasi yang tinggi termasuk juga Indonesia.
Kelima, resesi yang dialami oleh Amerika akan melemahkan mata uang dolar terhadap mata uang negara-negara yang lain seperti euro, yen jepang, dan lain-lain (mungkin tidak untuk Indonesia). Bagi anda yang bergerak di perdagangan valas maka disarankan untuk memegang mata uang euro.
Keenam, jika krisis yang terjadi di Amerika menyebabkan krisis ekonomi dunia secara global maka investasi pada komoditas emas dan batu mulia akan menjadi pilihan investasi favorit.
Ketujuh, sebaliknya jika pemerintah melakukan skenario dua maka akan terjadi masuknya dana secara besar-besaran ke Amerika sehingga berdampak pada penguatan mata uang dolar terhadap mata uang lainnya. Selain itu dimungkinkan juga investor akan menarik investasinya dari negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia).

3 komentar:

Ivana Atmojo mengatakan...

Pak Deddy,

This is a great blog to read for an informed & knowledgeable daily digest! I love it!

Thank you for sharing your views and expertise with all of us! :)

Take care,
Ivana Atmojo
(www.ivana-atmojo.com)

Deddy Marciano mengatakan...

Thanks ivana,

May you gain a great success with your new business.... and also your plan to pursue the doctoral program.

DM

RIKA NADIA mengatakan...

Halo semuanya, saya Rika Nadia, saat ini tinggal di Indonesia dan saya warga negara, saya tinggal di JL. Baru II Gg. Jaman Keb. Lama Utara RT.004 RW.002 No. 26. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberikan saran konkrit kepada semua warga negara Indonesia yang mencari pinjaman online untuk berhati-hati karena internet penuh dengan penipuan, terkadang saya benar-benar membutuhkan pinjaman , karena keuangan saya buruk. statusnya tidak begitu baik dan saya sangat ingin mendapatkan pinjaman, jadi saya jatuh ke tangan pemberi pinjaman palsu, dari Nigeria, Singapura, dan Ghana. Saya hampir mati, sampai seorang teman saya menelepon EWITA YUDA (ewitayuda1@gmail.com) memberi tahu saya tentang pemberi pinjaman yang sangat andal bernama Mrs ESTHER PATRICK. Manajer cabang Perusahaan pinjaman, Dia adalah pemberi pinjaman global; yang saya hubungi dan dia meminjamkan saya pinjaman sebesar Rp600.000.000 dalam waktu kurang dari 12 jam dengan bunga 2% dan itu mengubah kehidupan seluruh keluarga saya.

Saya menerima pinjaman saya di rekening bank saya setelah Nyonya. LADY ESTHER telah mengalihkan pinjaman kepada saya, ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa Rp600.000.000 yang saya lamar telah dikreditkan ke rekening bank saya. dan saya punya bukti dengan saya, karena saya masih terkejut, emailnya adalah (ESTHERPATRICK83@GMAIL.COM)

Jadi untuk pekerjaan yang baik LADY ESTHER telah melakukannya dalam kehidupan saya dan keluarga saya, saya memutuskan untuk menceritakan dan membagikan kesaksian saya tentang LADY ESTHER, sehingga orang-orang dari negara saya dan kota saya dapat memperoleh pinjaman dengan mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman, hubungi LADY ESTHER melalui email: (estherpatrick83@gmail.com) silakan hubungi LADY ESTHER Dia tidak tahu bahwa saya melakukan ini tetapi saya sangat senang sekarang dan saya memutuskan untuk memberi tahu orang lain tentangnya, Dia menawarkan semua jenis pinjaman kepada individu dan perusahaan dan juga saya ingin Tuhan memberkati dia lebih banyak,

Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: (rikanadia6@gmail.com). Sekarang, saya adalah pemilik bangga seorang wanita bisnis yang baik dan besar di kota saya, Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa terus memberkati LADY ESTHER untuk pekerjaan baiknya dalam kehidupan dan keluarga saya.
Tolong lakukan dengan baik untuk menanyakan detail lebih lanjut tentang Ibu dan saya akan menginstruksikan, dan ada bukti pinjaman, hubungi LADY ESTHER melalui email: (estherpatrick83@gmail.com) Terima kasih semua