Senin, 06 Oktober 2008

Gaya Kepemimpinan, Tingkat Kedewasaan Bawahan

Suatu kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh tingkat kedewasaan/kedewasaan bawahan dan gaya kepemimpinan, namun juga ditentukan oleh bagaimana seorang pemimpin menggunakan sumber-sumber kekuasaan yang dimilikinya untuk mempengaruhi perilaku bawahan (lihat tabel dibawah).

Gaya Kepemimpinan Kedewasaan Sumber-Sumber Kekuasaan

Delegasi Tinggi Kekuasaan Keahlian
Kekuasaan Informasi
Partisipasi Sedang Kekuasaan Referensi
Kekuasaan Legitimasi
Konsultasi Sedang Kekuasaan Penghargaan
Instruksi Rendah Kekuasaan Hubungan
Kekuasaan Paksaan


Kekuasaan paksaan. Bawahan dengan tingkat kedewasaan yang rendah membutuhkan banyak pengarahan oleh pemimpinnya dalam melakukan tugas-tugasnya. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah dengan sering memberikan instruksi-instruksi kepada bawahan. Sehingga dalam perilakunya pemimpin lebih sering menggunakan task behavior (perilaku yang berorientasi pada tugas) dari pada relationship behavior (perilaku yang berorientasi pada hubungan), karena dalam hal ini pemimpin akan berperan dalam menentukan petunjuk yang sangat spesifik, mengharuskan bawahan untuk mengikuti aturan dan prosedur, menjadwal dan mengkoordinasi pekerjaan. Oleh karena itu orang-orang yang tidak dapat memenuhi rambu-rambu yang telah ditentukan oleh seorang pemimpin, maka pemimpin akan memberikan sanksi atau hukuman kepada bawahannya, seperti: dipindahkan, digeser, di beri peringatan, di skorsing, atau dipecat
Kekuasaan hubungan. Ketika Bawahan mulai meningkat tingkat kedewasaannya, maka perilaku pemimpin untuk mengarahkan masih diperlukan dan perilaku mendukungpun mulai diperlukan. Sehingga gaya kepemimpinan instruksi dan konsultasi dirasakan sesuai dengan tingkat kedewasaan tersebut. Konsultasi maksudnya adalah pemimpin dengan gaya ini selalu mengkonsultasikan kebijakan yang diambil dengan para bawahan dan selanjutnya mempertimbangkan dan menerima pendapat dan masukan mereka. Pada kondisi seperti ini pemimpin juga biasanya mulai mengurangi task behavior dan mulai mengandalkan relationship behavior. Hasilnya akan bisa lebih efektif apabila dikombinasikan dengan sumber kekuasaan hubungan dari pemimpin. Pemilihan sumber kekuasaan ini oleh seorang pemimpin akan dapat diterima oleh para bawahannya, karena bawahan pada tingkat kedewasaan seperti ini cenderung untuk membantu dan menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah lewat hubungan-hubungan yang kuat.
Kekuasaan penghargaan. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan yang berkembang dari tingkat yang rendah ke tingkat yang moderat, sering membutuhkan sejumlah perilaku dukungan dan pengarahan yang besar. Gaya konsultasi sering memperkuat kekuasaan penghargaan ini. Oleh karena bawahan pada tingkat kedewasaan ini berkeinginan untuk mencoba mengamalkan perilaku baru, maka pemimpin yang memiliki sumber-sumber kekuasaan yang berupa penghargaan dapat mengarahkan dan memaksa mereka ke arah perkembangan yang diinginkannya. Jadi pada level kedewasaan ini gaya kepemimpinan yang efektif adalah gaya kepemimpinan konsultasi yang diperkuat dengan sumber kekuasaan penghargaan.
Kekuasaan Legitimasi. Gaya kepemimpinan yang sesuai untuk mempengaruhi secara efektif pada kedua tingkat kedewasaan ini adalah gaya kepemimpinan konsultasi dan partisipasi. Dan juga pemimpin mulai cenderung untuk menggunakan perilaku dari relationship behavior dari pada task behavior. Untuk memadukan secara efektif gaya kepemimpinan tersebut, maka kekuasaan legitimasi sangat membantu. Pada saat bawahan mencapai tingkat kedewasaan ini, maka kekuasaan pemimpin menjadi tersahkan (legitimized). Dalam hal ini pemimpin akan mampu memaksa atau mempengaruhi para bawahannya, karena jabatan yang dipengannya dalam hirarki organisasi.
Kekuasaan referensi. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan sedang ke tinggi hanya membutuhkan sedikit pengarahan, akan tetapi masih memerlukan dukungan dan komunikasi yang tinggi dari pemimpin. Gaya partisipasi dapat dipergunakan secara efektif, jika pemimpin memiliki kekuasaan referensi. Perilaku mendukung adalah memberikan perhatian pada kebutuhan bawahan, memperhatikan kesejahteraan bawahan dan menciptakan suasana bersahabat di lingkungan kerja mereka, kondisi ini sesuai dengan kekuasaan referensi. Pada gaya kepemimpinan ini, pemimpin lebih banyak melakukan fungsi sebagai fasilitator, dimana pemimpin tersebut akan berusaha untuk menumbuhkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan yang diambil melalui saling tukar menukar ide. Sehingga pemecahan masalah dan pembuatan keputusan berada dipihak bawahan. Selanjutnya sumber kepemimpinan referensi juga mampu meningkatkan keyakinan, semangat kerja, penghargaan dan perilaku dukungan kepada bawahan. Oleh karena itu bawahan umumnya akan memberikan jawaban yang positif, dan mau menerima pengaruh dari pemimpin.
Kekuasaan informasi. Gaya kepemimpinan yang dapat memotivasi bawahan secara efektif pada tingkat kedewasaan diatas moderat adalah partisipasi dan delegasi. Nampaknya kekuasaan informasi akan banyak menolong dengan mempergunakan gaya-gaya kepemimpinan ini. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan ini memandang pemimpin sebagai orang yang memiliki informasi untuk memelihara dan menyempurnakan pelaksanaan kerja. Perpindahan dari tingkat kedewasaan yang moderat ke tingkat kedewasaan yang tinggi dapat pula membantu bawahan jika mereka mengetahui bahwa pemimpin siap sedia untuk menjelaskan dan menerangkan mengenai berbagai persoalan dengan memberikan data yang tepat, laporan atau surat-menyurat jika dibutuhkan. Lewat kekuasaan informasi ini pemimpin mampu untuk mengetahui bawahan yang sudah matang ini. Kekuasaan keahlian. Bawahan yang sudah berkembang pada tingkat kedewasaan yang sudah tinggi sering hanya memerlukan sedikit pengarahan dan sedikit dukungan. Bawahan-bawahan ini mempunyai job maturity dan psychological maturity yang tinggi untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu pemimpin menetapkan tujuan yang menantang, mencari cara untuk meningkatkan kinerja, menekankan pada kinerja yang sempurna dan memperlihatkan keyakinan yang tinggi bahwa bawahan dapat mencapai standar yang tinggi. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan para bawahan sehingga tercapai suatu kesepakatan mengenai definisi suatu masalah, selanjutnya proses pengambilan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Atau dengan kata lain, pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan ppekerjaan mereka sendiri karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.

Tidak ada komentar: