Teman2 penggemar analisis teknikal, pola reversal head and shoulder telah terbentuk sejak awal bulan juli 2008. Next Level adalah 1.300 dan 1.000. Siapa masih mau invest di pasar modal? This is only the beginning, the worst is coming.
Kamis, 09 Oktober 2008
Selasa, 07 Oktober 2008
Pengetahuan dan Hikmat: Kunci Keberhasilan di Tengah Krisis (Renungan)
Jika kita mengamati kondisi ekonomi di Amerika Serikat, di Asia dan di Indonesia maka kita akan banyak sekali menemukan gejala-gejala akan munculnya krisis dalam skala yang lebih luas. Selain itu isu lingkungan seperti “pemanasan global”, “krisis energi” dan ‘krisis pangan” ikut memperparah realita yang terjadi. Sebenarnya apa sih yang sedang terjadi?
Apa yang sedang terjadi?
Kita harus sadar bahwa selama ini, kita (dunia juga) sangat tergantung pada minyak bumi dan gas sebagai sumber energi utama. Dan seperti kita ketahui bahwa minyak bumi dan gas merupakan sumber energi yang tidak terbarukan alias akan dapat habis. Saat ini sumber energi tersebut sudah mulai terbatas persediaannya namun disisi lain Cina dan India dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa menyerap sumber energi tersebut dengan jumlah yang luar biasa besar dan dengan pertumbuhan yang cukup tinggi pula. Akibatnya bisa dibayangkan jika permintaan jauh lebih tinggi dari pada suplai, yaitu harga minyak bumi dan gas akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Dan terbukti bahwa saat ini harga minyak bumi adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.
Dengan harga minyak yang begitu tinggi, orang akhirnya mencari sumber energi lain diluar minyak dan gas bumi yang tidak dapat diperbaharui. Alternatifnya adalah sumber-sumber energi yang berasal dari tumbuhan atau bio energi. Sebagai akibatnya maka sebagian ladang atau tanah perkebunan yang biasanya digunakan untuk tanaman pangan beralih fungsi menjadi ladang atau tanah perkebunan untuk tanaman bio energi. Selain itu bahan pangan yang seharusnya dikonsumsi sebagian digunakan untuk energi alternatif. Bisa anda bayangkan bahwa yang terjadi kemudian adalah turunnya suplai bahan pangan yang kita gunakan untuk konsumsi. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya “pemanasan global” yang menyebabkan perubahan cuaca yang cukup drastis dan bencana alam sehingga banyak negara mengalami gagal panen. Turunnya suplai bahan pangan yang sangat drastis menyebabkan harga pangan ikut naik mengikuti kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minyak dan bahan pangan memicu kenaikan harga berbagai jenis komoditi lainnya.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga ikut merasakan terjadinya kenaikan harga minyak dan harga bahan pangan yang cukup tinggi karena impor kita terhadap minyak dan bahan pangan juga tinggi (seperti minyak goreng, kedelai, dsb). Akan tetapi sebagian kenaikan tersebut dapat diredam oleh pemerintah dengan memberikan subsidi kepada masyarakat. Namun dengan keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah, semakin tidak terkendalinya kenaikan harga minyak dan semakin tingginya konsumsi masyarakat akan minyak maka kemungkinan besar pemerintah tidak akan kuat menanggung beban subsidi yang mencapai lebih dari 200 triliun. Pemerintah memaksakan diri untuk tidak menaikkan harga minyak dan listrik karena kebijakan tersebut sangat tidak menguntungkan posisi pemerintah menjelang pemilu 2009.
Bisa dibayangkan jika pesta demokrasi usai maka pemerintah akan segera melepaskan beban subsidi yang ditanggungnya dan yang terjadi adalah INFLASI. Inflasi adalah kondisi dimana meningkatnya harga-harga barang dipasar. Jika inflasi tinggi maka bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunganya untuk meredam inflasi tersebut dan seluruh bank juga akan ikut menaikkan tingkat suku bunganya (baik itu deposito maupun pinjaman). Kondisi ini akan memberatkan perusahaan-perusahaan yang memiliki pinjaman di bank. Kenaikan suku bunga tersebut akan memicu penurunan aktivitas ekonomi secara umum atau lesunya kegiatan ekonomi. Jadi kita harus siap-siap menghadapi krisis dan kondisi yang kurang menguntungkan pada masa-masa yang akan datang.
Kunci Keberhasilan di Tengah Krisis
Ketika saya diminta untuk menulis artikel ini oleh Pak Djuanda, saya berdoa kepada Tuhan apa yang harus saya tulis? Tuhan sampaikan dua hal yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan yang ada didalam dunia bisnis yaitu Pengetahuan dan Hikmat. Pengetahuan dan hikmat adalah kunci keberhasilan di tengah krisis.
Biasanya pengetahuan dan hikmat selalu diucapkan dalam setiap kotbah atau doa secara bersama-sama dan seakan-akan keduanya merupakan hal yang sama. Namun saya sampaikan disini bahwa pengetahuan dan hikmat adalah dua hal yang sangat berbeda. Pengetahuan adalah sesuatu yang kita dapatkan karena kita belajar atau mempelajari sesuatu. Semakin kita banyak belajar, membaca dan mempelajari sesuatu maka semakin banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh. Alkitab menyatakan bahwa pengetahuan adalah kunci keberhasilan (Hos 4:6 [NKJV] ”My people are destroyed for lack of knowledge...- RakyatKu binasa karena kurangnya pengetahuan….).
Terkadang ketika kita sibuk bekerja dan menangani banyak masalah, kita malas untuk belajar untuk memperoleh tambahan pengetahuan, kita terlalu fokus pada masalah atau problem kita dan hal tersebut terkadang membuat kita frustasi. Kita seperti berputar-putar dalam masalah kita, apalagi jika masalah kita tidak semakin beres namun menjadi semakin ruwet. Kadang kita perlu untuk melupakan sejenak (take a break) atau perlu keluar sebentar dari masalah-masalah tersebut agar kita dapat melihat masalah tersebut dari perspektif luar atau perspektif berbeda. Untuk menemukan berbagai perspektif baru dalam melihat suatu masalah, tidak hanya dibutuhkan pengalaman namun kita juga perlu belajar dan memperoleh pengetahuan baru yang terkait dengan masalah yang kita hadapi.
Ketika saya membahas kata belajar bukan berarti saya menyuruh anda untuk sekolah lagi akan tetapi kita bisa belajar dan memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Kita bisa belajar lewat pengalaman kita sendiri, lewat pengalaman orang lain atau teman kita, buku, atau yang paling popular saat ini yaitu internet. Saya juga belajar dengan mengikuti berbagai asosiasi atau perkumpulan yang selalu mengadakan forum diskusi dan seminar secara rutin setiap bulannya. Dari forum diskusi dan seminar tersebut saya banyak memperoleh tambahan pengetahuan (dalam seminar-seminar tersebut saya juga bertemu Pdt. Dr. Hanny Layantara yang juga selalu rindu untuk memperoleh tambahan pengetahuan).
Banyak media yang dapat kita gunakan untuk belajar dan memperoleh tambahan pengetahuan sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa kita harus rajin untuk mendalami dan mempelajari tentang segala hal baru yang terkait dan berpengaruh terhadap masalah atau bisnis kita sehingga kita akan menjadi seseorang yang memiliki keahlian atau menguasai bisnis tersebut. Jadilah seorang yang ahli dan mumpuni dalam bisnis yang saudara miliki dengan selalu meng-‘update’ pengetahuan-pengetahuan terbaru dan paling canggih. Berdasarkan pengalaman saya, Tuhan terkadang memberikan kita hikmat melalui pengetahuan-pengetahuan baru yang kita pelajari atau peroleh.
Kedua yang harus saudara miliki adalah hikmat. Hikmat tidak dapat kita pelajari seperti halnya pengetahuan karena hikmat datangnya dari Tuhan dan Tuhan adalah sumber hikmat (Ayub 12:13). Masalahnya adalah bagaimana agar kita bisa selalu mendapat hikmat dari Tuhan? Pertama kita lihat di alkitab dalam Maz 111:10 “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan,”. Ayat tersebut mengatakan bahwa jika kita takut akan Tuhan maka kita akan dapat memperoleh hikmat. Takut akan Tuhan maksudnya adalah “hidup kudus” (Holiness) dimana kita hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam alkitab. Kedua, adalah tetap membaca dan mempelajari firman Tuhan karena dari sana terdapat banyak rahasia-rahasia hikmat (Maz 19:8). Saya percaya bahwa meskipun Firman Tuhan ditulis pada ribuan tahun yang lalu namun tetap masih sangat relevan dengan kehidupan, masalah dan pergumulan kita saat ini. Firman Tuhan merupakan pelita bagi kaki kita untuk melangkah kearah yang benar sesuai dengan tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup kita. Percayalah bahwa tujuan tersebut bukan kecelakaan namun damai sejahtera dan hari depan yang penuh dengan pengharapan (Yer 29:11).
Penutup
Pengetahuan dan hikmat adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan yang paling utama (Ams 4:7 [AMP] “For skillful and Godly Wisdom is the principal thing…”-“Keahlian/skill dan hikmat Tuhan adalah masalah yang utama”). Dengan pengetahuan dan hikmat maka akan ada jaminan masa depan dan pengharapan (Ams 24:14 [MSG] “Likewise knowledge, and wisdom for your soul-- Get that and your future's secured, your hope is on solid rock - Demikian pengetahuan dan hikmat untuk jiwamu--dapatkan hal tersebut dan masa depanmu akan aman, harapanmu akan kuat seperti batu karang”. Pengetahuan tanpa hikmat adalah kesia-siaan dimana kita tahu akan segala hal namun kita tidak tahu apa faktor kunci keberhasilan kita. Sebaliknya jika kita hanya mengandalkan pada hikmat tanpa pengetahuan maka kita akan gagal dalam menerjemahkan hikmat yang Tuhan nyatakan dalam pikiran kita menjadi suatu tahapan yang sistematis dan konkrit dalam menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dalam bisnis kita.
Apa yang sedang terjadi?
Kita harus sadar bahwa selama ini, kita (dunia juga) sangat tergantung pada minyak bumi dan gas sebagai sumber energi utama. Dan seperti kita ketahui bahwa minyak bumi dan gas merupakan sumber energi yang tidak terbarukan alias akan dapat habis. Saat ini sumber energi tersebut sudah mulai terbatas persediaannya namun disisi lain Cina dan India dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa menyerap sumber energi tersebut dengan jumlah yang luar biasa besar dan dengan pertumbuhan yang cukup tinggi pula. Akibatnya bisa dibayangkan jika permintaan jauh lebih tinggi dari pada suplai, yaitu harga minyak bumi dan gas akan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Dan terbukti bahwa saat ini harga minyak bumi adalah yang tertinggi sepanjang sejarah.
Dengan harga minyak yang begitu tinggi, orang akhirnya mencari sumber energi lain diluar minyak dan gas bumi yang tidak dapat diperbaharui. Alternatifnya adalah sumber-sumber energi yang berasal dari tumbuhan atau bio energi. Sebagai akibatnya maka sebagian ladang atau tanah perkebunan yang biasanya digunakan untuk tanaman pangan beralih fungsi menjadi ladang atau tanah perkebunan untuk tanaman bio energi. Selain itu bahan pangan yang seharusnya dikonsumsi sebagian digunakan untuk energi alternatif. Bisa anda bayangkan bahwa yang terjadi kemudian adalah turunnya suplai bahan pangan yang kita gunakan untuk konsumsi. Kondisi tersebut diperparah dengan adanya “pemanasan global” yang menyebabkan perubahan cuaca yang cukup drastis dan bencana alam sehingga banyak negara mengalami gagal panen. Turunnya suplai bahan pangan yang sangat drastis menyebabkan harga pangan ikut naik mengikuti kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minyak dan bahan pangan memicu kenaikan harga berbagai jenis komoditi lainnya.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga ikut merasakan terjadinya kenaikan harga minyak dan harga bahan pangan yang cukup tinggi karena impor kita terhadap minyak dan bahan pangan juga tinggi (seperti minyak goreng, kedelai, dsb). Akan tetapi sebagian kenaikan tersebut dapat diredam oleh pemerintah dengan memberikan subsidi kepada masyarakat. Namun dengan keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah, semakin tidak terkendalinya kenaikan harga minyak dan semakin tingginya konsumsi masyarakat akan minyak maka kemungkinan besar pemerintah tidak akan kuat menanggung beban subsidi yang mencapai lebih dari 200 triliun. Pemerintah memaksakan diri untuk tidak menaikkan harga minyak dan listrik karena kebijakan tersebut sangat tidak menguntungkan posisi pemerintah menjelang pemilu 2009.
Bisa dibayangkan jika pesta demokrasi usai maka pemerintah akan segera melepaskan beban subsidi yang ditanggungnya dan yang terjadi adalah INFLASI. Inflasi adalah kondisi dimana meningkatnya harga-harga barang dipasar. Jika inflasi tinggi maka bank sentral akan menaikkan tingkat suku bunganya untuk meredam inflasi tersebut dan seluruh bank juga akan ikut menaikkan tingkat suku bunganya (baik itu deposito maupun pinjaman). Kondisi ini akan memberatkan perusahaan-perusahaan yang memiliki pinjaman di bank. Kenaikan suku bunga tersebut akan memicu penurunan aktivitas ekonomi secara umum atau lesunya kegiatan ekonomi. Jadi kita harus siap-siap menghadapi krisis dan kondisi yang kurang menguntungkan pada masa-masa yang akan datang.
Kunci Keberhasilan di Tengah Krisis
Ketika saya diminta untuk menulis artikel ini oleh Pak Djuanda, saya berdoa kepada Tuhan apa yang harus saya tulis? Tuhan sampaikan dua hal yang harus dimiliki oleh setiap anak Tuhan yang ada didalam dunia bisnis yaitu Pengetahuan dan Hikmat. Pengetahuan dan hikmat adalah kunci keberhasilan di tengah krisis.
Biasanya pengetahuan dan hikmat selalu diucapkan dalam setiap kotbah atau doa secara bersama-sama dan seakan-akan keduanya merupakan hal yang sama. Namun saya sampaikan disini bahwa pengetahuan dan hikmat adalah dua hal yang sangat berbeda. Pengetahuan adalah sesuatu yang kita dapatkan karena kita belajar atau mempelajari sesuatu. Semakin kita banyak belajar, membaca dan mempelajari sesuatu maka semakin banyak pengetahuan yang dapat kita peroleh. Alkitab menyatakan bahwa pengetahuan adalah kunci keberhasilan (Hos 4:6 [NKJV] ”My people are destroyed for lack of knowledge...- RakyatKu binasa karena kurangnya pengetahuan….).
Terkadang ketika kita sibuk bekerja dan menangani banyak masalah, kita malas untuk belajar untuk memperoleh tambahan pengetahuan, kita terlalu fokus pada masalah atau problem kita dan hal tersebut terkadang membuat kita frustasi. Kita seperti berputar-putar dalam masalah kita, apalagi jika masalah kita tidak semakin beres namun menjadi semakin ruwet. Kadang kita perlu untuk melupakan sejenak (take a break) atau perlu keluar sebentar dari masalah-masalah tersebut agar kita dapat melihat masalah tersebut dari perspektif luar atau perspektif berbeda. Untuk menemukan berbagai perspektif baru dalam melihat suatu masalah, tidak hanya dibutuhkan pengalaman namun kita juga perlu belajar dan memperoleh pengetahuan baru yang terkait dengan masalah yang kita hadapi.
Ketika saya membahas kata belajar bukan berarti saya menyuruh anda untuk sekolah lagi akan tetapi kita bisa belajar dan memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Kita bisa belajar lewat pengalaman kita sendiri, lewat pengalaman orang lain atau teman kita, buku, atau yang paling popular saat ini yaitu internet. Saya juga belajar dengan mengikuti berbagai asosiasi atau perkumpulan yang selalu mengadakan forum diskusi dan seminar secara rutin setiap bulannya. Dari forum diskusi dan seminar tersebut saya banyak memperoleh tambahan pengetahuan (dalam seminar-seminar tersebut saya juga bertemu Pdt. Dr. Hanny Layantara yang juga selalu rindu untuk memperoleh tambahan pengetahuan).
Banyak media yang dapat kita gunakan untuk belajar dan memperoleh tambahan pengetahuan sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa kita harus rajin untuk mendalami dan mempelajari tentang segala hal baru yang terkait dan berpengaruh terhadap masalah atau bisnis kita sehingga kita akan menjadi seseorang yang memiliki keahlian atau menguasai bisnis tersebut. Jadilah seorang yang ahli dan mumpuni dalam bisnis yang saudara miliki dengan selalu meng-‘update’ pengetahuan-pengetahuan terbaru dan paling canggih. Berdasarkan pengalaman saya, Tuhan terkadang memberikan kita hikmat melalui pengetahuan-pengetahuan baru yang kita pelajari atau peroleh.
Kedua yang harus saudara miliki adalah hikmat. Hikmat tidak dapat kita pelajari seperti halnya pengetahuan karena hikmat datangnya dari Tuhan dan Tuhan adalah sumber hikmat (Ayub 12:13). Masalahnya adalah bagaimana agar kita bisa selalu mendapat hikmat dari Tuhan? Pertama kita lihat di alkitab dalam Maz 111:10 “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan,”. Ayat tersebut mengatakan bahwa jika kita takut akan Tuhan maka kita akan dapat memperoleh hikmat. Takut akan Tuhan maksudnya adalah “hidup kudus” (Holiness) dimana kita hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang terdapat dalam alkitab. Kedua, adalah tetap membaca dan mempelajari firman Tuhan karena dari sana terdapat banyak rahasia-rahasia hikmat (Maz 19:8). Saya percaya bahwa meskipun Firman Tuhan ditulis pada ribuan tahun yang lalu namun tetap masih sangat relevan dengan kehidupan, masalah dan pergumulan kita saat ini. Firman Tuhan merupakan pelita bagi kaki kita untuk melangkah kearah yang benar sesuai dengan tujuan yang telah Tuhan tetapkan dalam hidup kita. Percayalah bahwa tujuan tersebut bukan kecelakaan namun damai sejahtera dan hari depan yang penuh dengan pengharapan (Yer 29:11).
Penutup
Pengetahuan dan hikmat adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan dan yang paling utama (Ams 4:7 [AMP] “For skillful and Godly Wisdom is the principal thing…”-“Keahlian/skill dan hikmat Tuhan adalah masalah yang utama”). Dengan pengetahuan dan hikmat maka akan ada jaminan masa depan dan pengharapan (Ams 24:14 [MSG] “Likewise knowledge, and wisdom for your soul-- Get that and your future's secured, your hope is on solid rock - Demikian pengetahuan dan hikmat untuk jiwamu--dapatkan hal tersebut dan masa depanmu akan aman, harapanmu akan kuat seperti batu karang”. Pengetahuan tanpa hikmat adalah kesia-siaan dimana kita tahu akan segala hal namun kita tidak tahu apa faktor kunci keberhasilan kita. Sebaliknya jika kita hanya mengandalkan pada hikmat tanpa pengetahuan maka kita akan gagal dalam menerjemahkan hikmat yang Tuhan nyatakan dalam pikiran kita menjadi suatu tahapan yang sistematis dan konkrit dalam menyelesaikan setiap masalah yang kita hadapi dalam bisnis kita.
Senin, 06 Oktober 2008
Dampak Resesi di Amerika dan Bagaimana Mensiasatinya
Apa itu Sub Prime Mortgage?
Munculnya masalah sub prime mortgage di Amerika dimulai pada awal tahun 2007. Banyak orang (termasuk juga mahasiswa saya) bertanya-tanya apa sih sebenarnya sub prime mortgage itu? Hal tersebut wajar, mengingat di Indonesia memang belum ada instrumen/surat berharga investasi seperti itu. Sub prime mortgage sebenarnya adalah suatu instrumen/surabt berharga derivatif. Instrumen derivatif adalah suatu instrumen yang diterbitkan atas dasar instrumen lain yang disebut instrumen induk. Di Amerika ada lembaga-lembaga keuangan yang secara khusus memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk kepemilikan rumah yang bersifat jangka panjang yaitu 10-30 tahun (di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Bank BTN/Bank Tabungan Negara). Pinjaman tersebut merupakan pinjaman yang dijamin dengan rumah yang dibeli tersebut. Tidak seperti di Indonesia, lembaga-lembaga keuangan di Amerika dapat menjual surat-surat hutang tersebut kepada para investor yang berminat. Lembaga-lembaga keuangan tersebut dapat segera memperoleh uang kas atas penjualan surat-surat tersebut dan dapat meminjamkannya lagi kepada masyarakat. Disisi lain para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut setiap bulan akan memperoleh cicilan pengembalian dari para penghutang sampai dengan jatuh tempo.
Mengapa Banyak Lembaga Keuangan Non Bank Komersial Kolaps?
Umumnya para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut adalah para lembaga keuangan (bank komersial dan non bank komersial), khususnya lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi dan lembaga-lembaga investasi. Mengapa bank komersial tidak tertarik dengan instrumen tersebut karena bank komersial memiliki penabung (sumber dana) yang sifatnya jangka pendek (deposito memiliki waktu jatuh tempo antara 1 bulan sampai 1 tahun) sehingga tidak cocok jika dana yang diperoleh dari nasabahnya diinvestasikan pada suatu instrumen dengan jangka waktu yang sangat panjang (yaitu 10-30 tahun). Sedangkan lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi, dan lembaga keuangan memiliki nasabah (penabung) yang bersifat jangka panjang (diatas 10 tahun) sehingga memiliki kesesuaian dengan karakteristik surat berharga tersebut (sub prime mortgage). Dapat kita lihat beberapa lembaga keuangan non bank komersial seperti Lehman Brother, Merril Lynch (Lembaga investasi), AIG (lembaga asuransi) mengalami masalah keuangan yang cukup serius dan beberapa menyatakan bankrut/pailit akibat dari tingginya kredit macet di sektor perumahan.
Saya memperkirkan bahwa naikknya harga minyak yang mencapai lebih dari US100 per barel merupakan salah satu penyebab utamanya tingginya kredit macet tersebut. Seperti kita ketahui bahwa konsumsi energi di Amerika Serikat mencapai 30% konsumsi energi dunia. Dapat kita bayangkan bahwa negara Amerika sangat tergantung sekali pada minyak bumi. Saya ingat pada saat saya masih kuliah di Amerika pada tahun 2003 harga bensin per galon (1 galon = 3,9 liter) sebesar kurang lebih $1,7, pada saat itu harga minyak kurang lebih $70 per barel. Sedangkan pada pertengahan tahun 2008 saat harga minyak mencapai $130 per barel, saya memperoleh informasi bahwa harga minyak di Amerika mencapai kurang lebih $3-3,5 per galon. Peningkatan harga minyak tersebut memicu inflasi yang cukup tinggi di Amerika sehingga memangkas pendapatan riil rakyat Amerika. Peningkatan biaya hidup akibat peningkatan harga minyak menyebabkan peminjam tidak mampu lagi membayar cicilan pinjaman rumah mereka sebagai akibatnya angka kredit macet di sektor perumahan di Amerika melonjak (mencapai $700 milyar atau Rp.7.000 triliun dengan kurs $1=Rp.10.000,-). Gagal bayar para peminjam di sektor perumahan menyebabkan investor yang membeli surat-surat berharga tersebut (sub prime mortgage) mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifkan sehingga pada akhirnya mereka mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran bunga/hasil investasi kepada para nasabahnya/penabungnya.
Dua Skenario Pemerintah Federal dalam Mengatasi Kredit Macet
Nilai kredit macet yang fantastis tersebut memaksa pemerintah Federal Amerika untuk bertindak sebelum banyak lagi lembaga keuangan mengalami kolaps dan perekonomian Amerika akan terjerumus kembali seperti pada masa Great Depression pada tahun 1930. Ada beberapa skenario yang dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk mengatasi kredit macet tersebut.
Skenario pertama, membentuk suatu lembaga khusus untuk menangani masalah kredit macet tersebut. Skenario ini mirip seperti yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ketika mengalami krisis ekonomi tahun 1997 dengan membentuk lembaga yang bertugas untuk menangani kredit macet yaitu BPPN. Namun dengar pendapat di Kongres antara Gubernur Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), Menteri Treasury (Menkeu), dan anggota Senat menunjukkan bahwa para senator baik dari partai republik maupun demokrat enggan untuk menyetujui pemberian dana talangan sebesar $700 milyar kepada lembaga-lembaga keuangan yang kolaps. Alasan yang mendasari keputusan tersebut adalah bahwa kesalahan tersebut (kolapsnya lembaga-lembaga keuangan) adalah murni karena kesalahan manajemen perusahaan keuangan sehingga pemerintah Federal tidak dapat memberikan bantuan dana yang berasal dari pajak. Dengan kata lain, tidak sepantasnya seluruh rakyat Amerika menanggung beban kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan para pengelola lembaga keuangan. Jika skenario pertama ini gagal maka kemungkinan pemerintah Federal Amerika akan melakukan skenario kedua.
Skenario kedua, adalah dengan mengundang para investor asing untuk menyuntikkan modal dan mengambil alih saham-saham perusahaan tersebut. Para investor yang mampu menyuntikkan dana dengan jumlah yang sangat besar tersebut, kemungkinan berasal dari Arab Saudi, China, dan Jepang. Masalahnya apakah rakyat Amerika dan pemerintah Amerika rela untuk melepas kepemilikan terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menjadi icon kebanggaan Amerika tersebut.
Keberhasilan pemerintah Federal Amerika untuk menyelesaikan masalah kredit macet tersebut merupakan kunci keberhasilan Amerika untuk keluar dari resesi ekonomi. Namun itu semua tidaklah semudah membalikkan tangan, dimana masih banyak ujian dan masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya nanti sehingga diperlukan waktu yang cukup panjang untuk melihat keberhasilan tersebut.
Dampak Resesi di Amerika
Dampak dari peristiwa yang terjadi di Amerika secara langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain adalah:
Pertama, adalah turunnya kepercayaan investor pada lembaga-lembaga keuangan non bank komersial sehingga kemungkinan investor akan memindahkan sebagian dananya dari lembaga keuangan non bank komersial kepada bank komersial. Dengan kata lain, reputasi dari bank-bank komersial akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang sehingga bagi anda yang bergerak di pasar modal, disarankan untuk mencermati saham-saham perusahaan perbankan. Sedangkan asuransi, dana pensiun dan perusahaan investasi untuk sementara sebaiknya dihindari.
Kedua, kredit macet sektor properti di Amerika juga akan menurunkan reputasi saham-saham sektor properti di Indonesia dan sebaiknya dihindari.
Ketiga, resesi di Amerika akan menurunkan perekonomian dunia secara global sehingga pertumbuhan ekonomi dunia akan cenderung untuk turun. Selain itu bagi negara-negara yang memiliki hubungan dagang dan investasi cukup tinggi dengan Amerika juga akan terkena dampaknya secara langsung termasuk Indonesia.
Keempat, investor cenderung akan lebih berhati-hati dalam menginvestasikan dananya. Investor akan melakukan reposisi terhadap portofolio mereka dengan tujuan agar risiko investasi dapat ditekan. Kemungkinan pengurangan risiko dilakukan dengan manarik sebagian dana dari negara-negara yang memiliki tingkat risiko investasi yang tinggi termasuk juga Indonesia.
Kelima, resesi yang dialami oleh Amerika akan melemahkan mata uang dolar terhadap mata uang negara-negara yang lain seperti euro, yen jepang, dan lain-lain (mungkin tidak untuk Indonesia). Bagi anda yang bergerak di perdagangan valas maka disarankan untuk memegang mata uang euro.
Keenam, jika krisis yang terjadi di Amerika menyebabkan krisis ekonomi dunia secara global maka investasi pada komoditas emas dan batu mulia akan menjadi pilihan investasi favorit.
Ketujuh, sebaliknya jika pemerintah melakukan skenario dua maka akan terjadi masuknya dana secara besar-besaran ke Amerika sehingga berdampak pada penguatan mata uang dolar terhadap mata uang lainnya. Selain itu dimungkinkan juga investor akan menarik investasinya dari negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia).
Munculnya masalah sub prime mortgage di Amerika dimulai pada awal tahun 2007. Banyak orang (termasuk juga mahasiswa saya) bertanya-tanya apa sih sebenarnya sub prime mortgage itu? Hal tersebut wajar, mengingat di Indonesia memang belum ada instrumen/surat berharga investasi seperti itu. Sub prime mortgage sebenarnya adalah suatu instrumen/surabt berharga derivatif. Instrumen derivatif adalah suatu instrumen yang diterbitkan atas dasar instrumen lain yang disebut instrumen induk. Di Amerika ada lembaga-lembaga keuangan yang secara khusus memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk kepemilikan rumah yang bersifat jangka panjang yaitu 10-30 tahun (di Indonesia seperti yang dilakukan oleh Bank BTN/Bank Tabungan Negara). Pinjaman tersebut merupakan pinjaman yang dijamin dengan rumah yang dibeli tersebut. Tidak seperti di Indonesia, lembaga-lembaga keuangan di Amerika dapat menjual surat-surat hutang tersebut kepada para investor yang berminat. Lembaga-lembaga keuangan tersebut dapat segera memperoleh uang kas atas penjualan surat-surat tersebut dan dapat meminjamkannya lagi kepada masyarakat. Disisi lain para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut setiap bulan akan memperoleh cicilan pengembalian dari para penghutang sampai dengan jatuh tempo.
Mengapa Banyak Lembaga Keuangan Non Bank Komersial Kolaps?
Umumnya para investor yang membeli surat-surat berharga tersebut adalah para lembaga keuangan (bank komersial dan non bank komersial), khususnya lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi dan lembaga-lembaga investasi. Mengapa bank komersial tidak tertarik dengan instrumen tersebut karena bank komersial memiliki penabung (sumber dana) yang sifatnya jangka pendek (deposito memiliki waktu jatuh tempo antara 1 bulan sampai 1 tahun) sehingga tidak cocok jika dana yang diperoleh dari nasabahnya diinvestasikan pada suatu instrumen dengan jangka waktu yang sangat panjang (yaitu 10-30 tahun). Sedangkan lembaga keuangan non bank komersial seperti: dana pensiun, asuransi, dan lembaga keuangan memiliki nasabah (penabung) yang bersifat jangka panjang (diatas 10 tahun) sehingga memiliki kesesuaian dengan karakteristik surat berharga tersebut (sub prime mortgage). Dapat kita lihat beberapa lembaga keuangan non bank komersial seperti Lehman Brother, Merril Lynch (Lembaga investasi), AIG (lembaga asuransi) mengalami masalah keuangan yang cukup serius dan beberapa menyatakan bankrut/pailit akibat dari tingginya kredit macet di sektor perumahan.
Saya memperkirkan bahwa naikknya harga minyak yang mencapai lebih dari US100 per barel merupakan salah satu penyebab utamanya tingginya kredit macet tersebut. Seperti kita ketahui bahwa konsumsi energi di Amerika Serikat mencapai 30% konsumsi energi dunia. Dapat kita bayangkan bahwa negara Amerika sangat tergantung sekali pada minyak bumi. Saya ingat pada saat saya masih kuliah di Amerika pada tahun 2003 harga bensin per galon (1 galon = 3,9 liter) sebesar kurang lebih $1,7, pada saat itu harga minyak kurang lebih $70 per barel. Sedangkan pada pertengahan tahun 2008 saat harga minyak mencapai $130 per barel, saya memperoleh informasi bahwa harga minyak di Amerika mencapai kurang lebih $3-3,5 per galon. Peningkatan harga minyak tersebut memicu inflasi yang cukup tinggi di Amerika sehingga memangkas pendapatan riil rakyat Amerika. Peningkatan biaya hidup akibat peningkatan harga minyak menyebabkan peminjam tidak mampu lagi membayar cicilan pinjaman rumah mereka sebagai akibatnya angka kredit macet di sektor perumahan di Amerika melonjak (mencapai $700 milyar atau Rp.7.000 triliun dengan kurs $1=Rp.10.000,-). Gagal bayar para peminjam di sektor perumahan menyebabkan investor yang membeli surat-surat berharga tersebut (sub prime mortgage) mengalami penurunan pendapatan yang sangat signifkan sehingga pada akhirnya mereka mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran bunga/hasil investasi kepada para nasabahnya/penabungnya.
Dua Skenario Pemerintah Federal dalam Mengatasi Kredit Macet
Nilai kredit macet yang fantastis tersebut memaksa pemerintah Federal Amerika untuk bertindak sebelum banyak lagi lembaga keuangan mengalami kolaps dan perekonomian Amerika akan terjerumus kembali seperti pada masa Great Depression pada tahun 1930. Ada beberapa skenario yang dilakukan oleh pemerintah Amerika untuk mengatasi kredit macet tersebut.
Skenario pertama, membentuk suatu lembaga khusus untuk menangani masalah kredit macet tersebut. Skenario ini mirip seperti yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ketika mengalami krisis ekonomi tahun 1997 dengan membentuk lembaga yang bertugas untuk menangani kredit macet yaitu BPPN. Namun dengar pendapat di Kongres antara Gubernur Federal Reserve (Bank Sentral Amerika), Menteri Treasury (Menkeu), dan anggota Senat menunjukkan bahwa para senator baik dari partai republik maupun demokrat enggan untuk menyetujui pemberian dana talangan sebesar $700 milyar kepada lembaga-lembaga keuangan yang kolaps. Alasan yang mendasari keputusan tersebut adalah bahwa kesalahan tersebut (kolapsnya lembaga-lembaga keuangan) adalah murni karena kesalahan manajemen perusahaan keuangan sehingga pemerintah Federal tidak dapat memberikan bantuan dana yang berasal dari pajak. Dengan kata lain, tidak sepantasnya seluruh rakyat Amerika menanggung beban kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan para pengelola lembaga keuangan. Jika skenario pertama ini gagal maka kemungkinan pemerintah Federal Amerika akan melakukan skenario kedua.
Skenario kedua, adalah dengan mengundang para investor asing untuk menyuntikkan modal dan mengambil alih saham-saham perusahaan tersebut. Para investor yang mampu menyuntikkan dana dengan jumlah yang sangat besar tersebut, kemungkinan berasal dari Arab Saudi, China, dan Jepang. Masalahnya apakah rakyat Amerika dan pemerintah Amerika rela untuk melepas kepemilikan terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menjadi icon kebanggaan Amerika tersebut.
Keberhasilan pemerintah Federal Amerika untuk menyelesaikan masalah kredit macet tersebut merupakan kunci keberhasilan Amerika untuk keluar dari resesi ekonomi. Namun itu semua tidaklah semudah membalikkan tangan, dimana masih banyak ujian dan masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya nanti sehingga diperlukan waktu yang cukup panjang untuk melihat keberhasilan tersebut.
Dampak Resesi di Amerika
Dampak dari peristiwa yang terjadi di Amerika secara langsung atau tidak akan berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia. Dampak yang mungkin terjadi, antara lain adalah:
Pertama, adalah turunnya kepercayaan investor pada lembaga-lembaga keuangan non bank komersial sehingga kemungkinan investor akan memindahkan sebagian dananya dari lembaga keuangan non bank komersial kepada bank komersial. Dengan kata lain, reputasi dari bank-bank komersial akan meningkat dalam beberapa tahun mendatang sehingga bagi anda yang bergerak di pasar modal, disarankan untuk mencermati saham-saham perusahaan perbankan. Sedangkan asuransi, dana pensiun dan perusahaan investasi untuk sementara sebaiknya dihindari.
Kedua, kredit macet sektor properti di Amerika juga akan menurunkan reputasi saham-saham sektor properti di Indonesia dan sebaiknya dihindari.
Ketiga, resesi di Amerika akan menurunkan perekonomian dunia secara global sehingga pertumbuhan ekonomi dunia akan cenderung untuk turun. Selain itu bagi negara-negara yang memiliki hubungan dagang dan investasi cukup tinggi dengan Amerika juga akan terkena dampaknya secara langsung termasuk Indonesia.
Keempat, investor cenderung akan lebih berhati-hati dalam menginvestasikan dananya. Investor akan melakukan reposisi terhadap portofolio mereka dengan tujuan agar risiko investasi dapat ditekan. Kemungkinan pengurangan risiko dilakukan dengan manarik sebagian dana dari negara-negara yang memiliki tingkat risiko investasi yang tinggi termasuk juga Indonesia.
Kelima, resesi yang dialami oleh Amerika akan melemahkan mata uang dolar terhadap mata uang negara-negara yang lain seperti euro, yen jepang, dan lain-lain (mungkin tidak untuk Indonesia). Bagi anda yang bergerak di perdagangan valas maka disarankan untuk memegang mata uang euro.
Keenam, jika krisis yang terjadi di Amerika menyebabkan krisis ekonomi dunia secara global maka investasi pada komoditas emas dan batu mulia akan menjadi pilihan investasi favorit.
Ketujuh, sebaliknya jika pemerintah melakukan skenario dua maka akan terjadi masuknya dana secara besar-besaran ke Amerika sehingga berdampak pada penguatan mata uang dolar terhadap mata uang lainnya. Selain itu dimungkinkan juga investor akan menarik investasinya dari negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia).
Investasi Reksadana
Untuk melakukan investasi di pasar modal dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, melakukan investasi langsung ke pasar modal dengan cara membeli surat-surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal tersebut, seperti saham biasa, saham preferen, berbagai jenis obligasi, waran dan produk-produk lain yang ditawarkan di pasar modal. Cara kedua adalah dengan melakukan investasi melalui lembaga-lembaga investasi yang menghimpun dana dari masyarakat dan para investor/pemodal yang selanjutnya diinvestasikan untuk membeli surat-surat berharga di pasar modal.
Adapun keuntungan melakukan investasi melalui reksadana dibandingkan dengan investasi langsung dipasar modal adalah (Bodie, 1996):
1. Reksadana selalu menyiapkan laporan secara periodik kepada para nasabahnya berkenaan dengan kinerja reksadana dan keuntungan yang diperoleh para investor.
2. Dengan menyatukan dana yang dihimpun dari para investor, memungkinkan rekasadana dapat bertindak sebagai investor besar, dimana dapat membeli surat berharga yang beragam dengan tujuan untuk meminimalisasi risiko. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh para investor kecil karena jumlah dana yang kecil tidak memungkinkan untuk membeli surat berharga yang beragam.
3. Reksadana memiliki para analis dan fund manager yang bekerja secara full-time dan berusaha memperoleh informasi untuk mencapai hasil investasi yang superior bagi para nasabahnya.
4. Dengan melakukan transaksi dalam jumlah besar, rekasadana dapat memperoleh potongan atau diskon untuk broker fee atau transaction fee.
Dari keuntungan-keuntungan diatas dapat disimpulkan bahwa reksadana memiliki para analis dan fund manager yang bekerja secara full-time dan selalu berusaha untuk memperoleh informasi secara berkesinambungan yang berkaitan dengan portofolionya. Sehingga informasi yang dimiliki oleh reksadana lebih baik dari pada informasi yang dimiliki oleh pasar dan investor perorangan. Sebagai konsekwensinya diharapkan bahwa kinerja reksadana yang dikelola oleh para fund manager akan lebih baik daripada kinerja portofolio pasar dan kinerja investor perorangan.
Penelitian tentang kinerja reksadana telah dilakukan oleh Friend, dkk (1962) pada pasar modal Amerika. Sampel penelitian ini menggunakan 152 reksadana selama periode Desember 1953-September 1958. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prestasi reksadana lebih rendah dari pada portofolio pasar, dimana tingkat keuntungan rata-rata portofolio reksadana sebesar 12,4% per tahun, sedangkan tingkat keuntungan rata-rata portofolio pasar sebesar 12,6%. Sehingga dapat dikatakan bahwa reksadana memiliki abnormal tingkat keuntungan negatif, yang artinya kinerja reksadana lebih rendah dari pada kinerja pasar secara umum.
Penelitian-penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Sharp (1966), Sharp dan Jensen (1987) menyimpulkan bahwa kinerja rata-rata reksadana berada dibawah kinerja indeks pasar secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Grossman dan Stiglitz (1980) berhasil menemukan adanya tingkat keuntungan diatas rata-rata yang dihasilkan oleh reksadana, namun setelah diperhitungkan dengan fee bagi reksadana, ternyata pemodal tidak dapat lagi memperoleh tingkat keuntungan diatas rata-rata. Dengan kata lain bahwa tingkat keuntungan rata-rata yang dihasilkan oleh reksadana tidak berbeda dengan tingkat keuntungan rata-rata dari kinerja portofolio pasar.
Namun penelitian-penelitian yang dilakukan setelah tahun 1987, menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil yang diperoleh sebelumnya. Seperti yang dilakukan oleh Ippolito (1989) menunjukkan bahwa pengeluaran yang dilakukan oleh reksadana untuk memperoleh informasi tidak sia-sia, dimana reksadana dapat memperoleh tingkat keuntungan diatas rata-rata, atau dengan kata lain kinerja reksadana lebih baik dari pada kinerja pasar secara umum. Ippolito (1993) melakukan penelitian kembali dengan menggunakan sampel yang lebih besar yaitu antara tahun 1962-1991, ternyata menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitiannya yang sebelumnya.
Namun penelitian yang dilakukan oleh Marciano (2002) menyimpulkan bahwa kinerja portofolio saham yang dibentuk oleh pihak reksadana sebagai perusahaan yang mengelola dana nasabahnya, lebih baik dari pada kinerja portofolio acak dan portofolio pasar. Hal ini berarti bahwa pihak reksadana memiliki informasi yang lebih baik dari para informasi yang dimiliki oleh pemodal perorangan dan pasar secara umum.
Adapun keuntungan melakukan investasi melalui reksadana dibandingkan dengan investasi langsung dipasar modal adalah (Bodie, 1996):
1. Reksadana selalu menyiapkan laporan secara periodik kepada para nasabahnya berkenaan dengan kinerja reksadana dan keuntungan yang diperoleh para investor.
2. Dengan menyatukan dana yang dihimpun dari para investor, memungkinkan rekasadana dapat bertindak sebagai investor besar, dimana dapat membeli surat berharga yang beragam dengan tujuan untuk meminimalisasi risiko. Hal ini tidak dapat dilakukan oleh para investor kecil karena jumlah dana yang kecil tidak memungkinkan untuk membeli surat berharga yang beragam.
3. Reksadana memiliki para analis dan fund manager yang bekerja secara full-time dan berusaha memperoleh informasi untuk mencapai hasil investasi yang superior bagi para nasabahnya.
4. Dengan melakukan transaksi dalam jumlah besar, rekasadana dapat memperoleh potongan atau diskon untuk broker fee atau transaction fee.
Dari keuntungan-keuntungan diatas dapat disimpulkan bahwa reksadana memiliki para analis dan fund manager yang bekerja secara full-time dan selalu berusaha untuk memperoleh informasi secara berkesinambungan yang berkaitan dengan portofolionya. Sehingga informasi yang dimiliki oleh reksadana lebih baik dari pada informasi yang dimiliki oleh pasar dan investor perorangan. Sebagai konsekwensinya diharapkan bahwa kinerja reksadana yang dikelola oleh para fund manager akan lebih baik daripada kinerja portofolio pasar dan kinerja investor perorangan.
Penelitian tentang kinerja reksadana telah dilakukan oleh Friend, dkk (1962) pada pasar modal Amerika. Sampel penelitian ini menggunakan 152 reksadana selama periode Desember 1953-September 1958. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata prestasi reksadana lebih rendah dari pada portofolio pasar, dimana tingkat keuntungan rata-rata portofolio reksadana sebesar 12,4% per tahun, sedangkan tingkat keuntungan rata-rata portofolio pasar sebesar 12,6%. Sehingga dapat dikatakan bahwa reksadana memiliki abnormal tingkat keuntungan negatif, yang artinya kinerja reksadana lebih rendah dari pada kinerja pasar secara umum.
Penelitian-penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Sharp (1966), Sharp dan Jensen (1987) menyimpulkan bahwa kinerja rata-rata reksadana berada dibawah kinerja indeks pasar secara umum. Penelitian yang dilakukan oleh Grossman dan Stiglitz (1980) berhasil menemukan adanya tingkat keuntungan diatas rata-rata yang dihasilkan oleh reksadana, namun setelah diperhitungkan dengan fee bagi reksadana, ternyata pemodal tidak dapat lagi memperoleh tingkat keuntungan diatas rata-rata. Dengan kata lain bahwa tingkat keuntungan rata-rata yang dihasilkan oleh reksadana tidak berbeda dengan tingkat keuntungan rata-rata dari kinerja portofolio pasar.
Namun penelitian-penelitian yang dilakukan setelah tahun 1987, menunjukkan hasil yang berbeda dengan hasil yang diperoleh sebelumnya. Seperti yang dilakukan oleh Ippolito (1989) menunjukkan bahwa pengeluaran yang dilakukan oleh reksadana untuk memperoleh informasi tidak sia-sia, dimana reksadana dapat memperoleh tingkat keuntungan diatas rata-rata, atau dengan kata lain kinerja reksadana lebih baik dari pada kinerja pasar secara umum. Ippolito (1993) melakukan penelitian kembali dengan menggunakan sampel yang lebih besar yaitu antara tahun 1962-1991, ternyata menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitiannya yang sebelumnya.
Namun penelitian yang dilakukan oleh Marciano (2002) menyimpulkan bahwa kinerja portofolio saham yang dibentuk oleh pihak reksadana sebagai perusahaan yang mengelola dana nasabahnya, lebih baik dari pada kinerja portofolio acak dan portofolio pasar. Hal ini berarti bahwa pihak reksadana memiliki informasi yang lebih baik dari para informasi yang dimiliki oleh pemodal perorangan dan pasar secara umum.
Gaya Kepemimpinan, Tingkat Kedewasaan Bawahan
Suatu kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh tingkat kedewasaan/kedewasaan bawahan dan gaya kepemimpinan, namun juga ditentukan oleh bagaimana seorang pemimpin menggunakan sumber-sumber kekuasaan yang dimilikinya untuk mempengaruhi perilaku bawahan (lihat tabel dibawah).
Gaya Kepemimpinan Kedewasaan Sumber-Sumber Kekuasaan
Delegasi Tinggi Kekuasaan Keahlian
Kekuasaan Informasi
Partisipasi Sedang Kekuasaan Referensi
Kekuasaan Legitimasi
Konsultasi Sedang Kekuasaan Penghargaan
Instruksi Rendah Kekuasaan Hubungan
Kekuasaan Paksaan
Kekuasaan paksaan. Bawahan dengan tingkat kedewasaan yang rendah membutuhkan banyak pengarahan oleh pemimpinnya dalam melakukan tugas-tugasnya. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah dengan sering memberikan instruksi-instruksi kepada bawahan. Sehingga dalam perilakunya pemimpin lebih sering menggunakan task behavior (perilaku yang berorientasi pada tugas) dari pada relationship behavior (perilaku yang berorientasi pada hubungan), karena dalam hal ini pemimpin akan berperan dalam menentukan petunjuk yang sangat spesifik, mengharuskan bawahan untuk mengikuti aturan dan prosedur, menjadwal dan mengkoordinasi pekerjaan. Oleh karena itu orang-orang yang tidak dapat memenuhi rambu-rambu yang telah ditentukan oleh seorang pemimpin, maka pemimpin akan memberikan sanksi atau hukuman kepada bawahannya, seperti: dipindahkan, digeser, di beri peringatan, di skorsing, atau dipecat
Kekuasaan hubungan. Ketika Bawahan mulai meningkat tingkat kedewasaannya, maka perilaku pemimpin untuk mengarahkan masih diperlukan dan perilaku mendukungpun mulai diperlukan. Sehingga gaya kepemimpinan instruksi dan konsultasi dirasakan sesuai dengan tingkat kedewasaan tersebut. Konsultasi maksudnya adalah pemimpin dengan gaya ini selalu mengkonsultasikan kebijakan yang diambil dengan para bawahan dan selanjutnya mempertimbangkan dan menerima pendapat dan masukan mereka. Pada kondisi seperti ini pemimpin juga biasanya mulai mengurangi task behavior dan mulai mengandalkan relationship behavior. Hasilnya akan bisa lebih efektif apabila dikombinasikan dengan sumber kekuasaan hubungan dari pemimpin. Pemilihan sumber kekuasaan ini oleh seorang pemimpin akan dapat diterima oleh para bawahannya, karena bawahan pada tingkat kedewasaan seperti ini cenderung untuk membantu dan menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah lewat hubungan-hubungan yang kuat.
Kekuasaan penghargaan. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan yang berkembang dari tingkat yang rendah ke tingkat yang moderat, sering membutuhkan sejumlah perilaku dukungan dan pengarahan yang besar. Gaya konsultasi sering memperkuat kekuasaan penghargaan ini. Oleh karena bawahan pada tingkat kedewasaan ini berkeinginan untuk mencoba mengamalkan perilaku baru, maka pemimpin yang memiliki sumber-sumber kekuasaan yang berupa penghargaan dapat mengarahkan dan memaksa mereka ke arah perkembangan yang diinginkannya. Jadi pada level kedewasaan ini gaya kepemimpinan yang efektif adalah gaya kepemimpinan konsultasi yang diperkuat dengan sumber kekuasaan penghargaan.
Kekuasaan Legitimasi. Gaya kepemimpinan yang sesuai untuk mempengaruhi secara efektif pada kedua tingkat kedewasaan ini adalah gaya kepemimpinan konsultasi dan partisipasi. Dan juga pemimpin mulai cenderung untuk menggunakan perilaku dari relationship behavior dari pada task behavior. Untuk memadukan secara efektif gaya kepemimpinan tersebut, maka kekuasaan legitimasi sangat membantu. Pada saat bawahan mencapai tingkat kedewasaan ini, maka kekuasaan pemimpin menjadi tersahkan (legitimized). Dalam hal ini pemimpin akan mampu memaksa atau mempengaruhi para bawahannya, karena jabatan yang dipengannya dalam hirarki organisasi.
Kekuasaan referensi. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan sedang ke tinggi hanya membutuhkan sedikit pengarahan, akan tetapi masih memerlukan dukungan dan komunikasi yang tinggi dari pemimpin. Gaya partisipasi dapat dipergunakan secara efektif, jika pemimpin memiliki kekuasaan referensi. Perilaku mendukung adalah memberikan perhatian pada kebutuhan bawahan, memperhatikan kesejahteraan bawahan dan menciptakan suasana bersahabat di lingkungan kerja mereka, kondisi ini sesuai dengan kekuasaan referensi. Pada gaya kepemimpinan ini, pemimpin lebih banyak melakukan fungsi sebagai fasilitator, dimana pemimpin tersebut akan berusaha untuk menumbuhkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan yang diambil melalui saling tukar menukar ide. Sehingga pemecahan masalah dan pembuatan keputusan berada dipihak bawahan. Selanjutnya sumber kepemimpinan referensi juga mampu meningkatkan keyakinan, semangat kerja, penghargaan dan perilaku dukungan kepada bawahan. Oleh karena itu bawahan umumnya akan memberikan jawaban yang positif, dan mau menerima pengaruh dari pemimpin.
Kekuasaan informasi. Gaya kepemimpinan yang dapat memotivasi bawahan secara efektif pada tingkat kedewasaan diatas moderat adalah partisipasi dan delegasi. Nampaknya kekuasaan informasi akan banyak menolong dengan mempergunakan gaya-gaya kepemimpinan ini. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan ini memandang pemimpin sebagai orang yang memiliki informasi untuk memelihara dan menyempurnakan pelaksanaan kerja. Perpindahan dari tingkat kedewasaan yang moderat ke tingkat kedewasaan yang tinggi dapat pula membantu bawahan jika mereka mengetahui bahwa pemimpin siap sedia untuk menjelaskan dan menerangkan mengenai berbagai persoalan dengan memberikan data yang tepat, laporan atau surat-menyurat jika dibutuhkan. Lewat kekuasaan informasi ini pemimpin mampu untuk mengetahui bawahan yang sudah matang ini. Kekuasaan keahlian. Bawahan yang sudah berkembang pada tingkat kedewasaan yang sudah tinggi sering hanya memerlukan sedikit pengarahan dan sedikit dukungan. Bawahan-bawahan ini mempunyai job maturity dan psychological maturity yang tinggi untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu pemimpin menetapkan tujuan yang menantang, mencari cara untuk meningkatkan kinerja, menekankan pada kinerja yang sempurna dan memperlihatkan keyakinan yang tinggi bahwa bawahan dapat mencapai standar yang tinggi. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan para bawahan sehingga tercapai suatu kesepakatan mengenai definisi suatu masalah, selanjutnya proses pengambilan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Atau dengan kata lain, pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan ppekerjaan mereka sendiri karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.
Gaya Kepemimpinan Kedewasaan Sumber-Sumber Kekuasaan
Delegasi Tinggi Kekuasaan Keahlian
Kekuasaan Informasi
Partisipasi Sedang Kekuasaan Referensi
Kekuasaan Legitimasi
Konsultasi Sedang Kekuasaan Penghargaan
Instruksi Rendah Kekuasaan Hubungan
Kekuasaan Paksaan
Kekuasaan paksaan. Bawahan dengan tingkat kedewasaan yang rendah membutuhkan banyak pengarahan oleh pemimpinnya dalam melakukan tugas-tugasnya. Gaya kepemimpinan yang sesuai adalah dengan sering memberikan instruksi-instruksi kepada bawahan. Sehingga dalam perilakunya pemimpin lebih sering menggunakan task behavior (perilaku yang berorientasi pada tugas) dari pada relationship behavior (perilaku yang berorientasi pada hubungan), karena dalam hal ini pemimpin akan berperan dalam menentukan petunjuk yang sangat spesifik, mengharuskan bawahan untuk mengikuti aturan dan prosedur, menjadwal dan mengkoordinasi pekerjaan. Oleh karena itu orang-orang yang tidak dapat memenuhi rambu-rambu yang telah ditentukan oleh seorang pemimpin, maka pemimpin akan memberikan sanksi atau hukuman kepada bawahannya, seperti: dipindahkan, digeser, di beri peringatan, di skorsing, atau dipecat
Kekuasaan hubungan. Ketika Bawahan mulai meningkat tingkat kedewasaannya, maka perilaku pemimpin untuk mengarahkan masih diperlukan dan perilaku mendukungpun mulai diperlukan. Sehingga gaya kepemimpinan instruksi dan konsultasi dirasakan sesuai dengan tingkat kedewasaan tersebut. Konsultasi maksudnya adalah pemimpin dengan gaya ini selalu mengkonsultasikan kebijakan yang diambil dengan para bawahan dan selanjutnya mempertimbangkan dan menerima pendapat dan masukan mereka. Pada kondisi seperti ini pemimpin juga biasanya mulai mengurangi task behavior dan mulai mengandalkan relationship behavior. Hasilnya akan bisa lebih efektif apabila dikombinasikan dengan sumber kekuasaan hubungan dari pemimpin. Pemilihan sumber kekuasaan ini oleh seorang pemimpin akan dapat diterima oleh para bawahannya, karena bawahan pada tingkat kedewasaan seperti ini cenderung untuk membantu dan menghindari hukuman atau mendapatkan hadiah lewat hubungan-hubungan yang kuat.
Kekuasaan penghargaan. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan yang berkembang dari tingkat yang rendah ke tingkat yang moderat, sering membutuhkan sejumlah perilaku dukungan dan pengarahan yang besar. Gaya konsultasi sering memperkuat kekuasaan penghargaan ini. Oleh karena bawahan pada tingkat kedewasaan ini berkeinginan untuk mencoba mengamalkan perilaku baru, maka pemimpin yang memiliki sumber-sumber kekuasaan yang berupa penghargaan dapat mengarahkan dan memaksa mereka ke arah perkembangan yang diinginkannya. Jadi pada level kedewasaan ini gaya kepemimpinan yang efektif adalah gaya kepemimpinan konsultasi yang diperkuat dengan sumber kekuasaan penghargaan.
Kekuasaan Legitimasi. Gaya kepemimpinan yang sesuai untuk mempengaruhi secara efektif pada kedua tingkat kedewasaan ini adalah gaya kepemimpinan konsultasi dan partisipasi. Dan juga pemimpin mulai cenderung untuk menggunakan perilaku dari relationship behavior dari pada task behavior. Untuk memadukan secara efektif gaya kepemimpinan tersebut, maka kekuasaan legitimasi sangat membantu. Pada saat bawahan mencapai tingkat kedewasaan ini, maka kekuasaan pemimpin menjadi tersahkan (legitimized). Dalam hal ini pemimpin akan mampu memaksa atau mempengaruhi para bawahannya, karena jabatan yang dipengannya dalam hirarki organisasi.
Kekuasaan referensi. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan sedang ke tinggi hanya membutuhkan sedikit pengarahan, akan tetapi masih memerlukan dukungan dan komunikasi yang tinggi dari pemimpin. Gaya partisipasi dapat dipergunakan secara efektif, jika pemimpin memiliki kekuasaan referensi. Perilaku mendukung adalah memberikan perhatian pada kebutuhan bawahan, memperhatikan kesejahteraan bawahan dan menciptakan suasana bersahabat di lingkungan kerja mereka, kondisi ini sesuai dengan kekuasaan referensi. Pada gaya kepemimpinan ini, pemimpin lebih banyak melakukan fungsi sebagai fasilitator, dimana pemimpin tersebut akan berusaha untuk menumbuhkan partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan yang diambil melalui saling tukar menukar ide. Sehingga pemecahan masalah dan pembuatan keputusan berada dipihak bawahan. Selanjutnya sumber kepemimpinan referensi juga mampu meningkatkan keyakinan, semangat kerja, penghargaan dan perilaku dukungan kepada bawahan. Oleh karena itu bawahan umumnya akan memberikan jawaban yang positif, dan mau menerima pengaruh dari pemimpin.
Kekuasaan informasi. Gaya kepemimpinan yang dapat memotivasi bawahan secara efektif pada tingkat kedewasaan diatas moderat adalah partisipasi dan delegasi. Nampaknya kekuasaan informasi akan banyak menolong dengan mempergunakan gaya-gaya kepemimpinan ini. Bawahan yang berada pada tingkat kedewasaan ini memandang pemimpin sebagai orang yang memiliki informasi untuk memelihara dan menyempurnakan pelaksanaan kerja. Perpindahan dari tingkat kedewasaan yang moderat ke tingkat kedewasaan yang tinggi dapat pula membantu bawahan jika mereka mengetahui bahwa pemimpin siap sedia untuk menjelaskan dan menerangkan mengenai berbagai persoalan dengan memberikan data yang tepat, laporan atau surat-menyurat jika dibutuhkan. Lewat kekuasaan informasi ini pemimpin mampu untuk mengetahui bawahan yang sudah matang ini. Kekuasaan keahlian. Bawahan yang sudah berkembang pada tingkat kedewasaan yang sudah tinggi sering hanya memerlukan sedikit pengarahan dan sedikit dukungan. Bawahan-bawahan ini mempunyai job maturity dan psychological maturity yang tinggi untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Oleh karena itu pemimpin menetapkan tujuan yang menantang, mencari cara untuk meningkatkan kinerja, menekankan pada kinerja yang sempurna dan memperlihatkan keyakinan yang tinggi bahwa bawahan dapat mencapai standar yang tinggi. Dalam pengambilan keputusan, pemimpin mendiskusikan masalah yang dihadapi dengan para bawahan sehingga tercapai suatu kesepakatan mengenai definisi suatu masalah, selanjutnya proses pengambilan keputusan didelegasikan secara keseluruhan kepada bawahan. Atau dengan kata lain, pemimpin memberikan kesempatan yang luas bagi bawahan untuk melaksanakan ppekerjaan mereka sendiri karena mereka memiliki kemampuan dan keyakinan untuk memikul tanggung jawab dalam pengarahan perilaku mereka sendiri.
Mendesain Organisasi
Kalau kita melihat banyak sekali organisasi di sekitar kita dari yang besar sampai yang kecil, dari yang informal sampai yang formal. Maka akan timbul pertanyaan dari benak kita mengenai organisasi-organisasi tersebut: “Mengapa setiap organisasi memiliki struktur yang berbeda-beda?”. Sehingga tujuan dari Galbraith dalam menulis buku ini adalah untuk menyajikan suatu model dimana kita dapat mengidentifikasi dan mengevaluasi dari berbagai bentuk alternatif organisasi.
Dasar dari pembuatan model tersebut sebenarnya adalah teori kontingensi yang mendasarkan pada dua kesimpulan yang berasal dari studi empiris perusahan-perusahaan besar, antara lain: pertama, tidak ada satu cara yang terbaik dalam mengorganisasi; kedua, setiap cara dalam mengorganisasi tidak ada yang memiliki efektifitas sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa efektifitas setiap organisasi yang berbeda-beda tidak bersifat random, namun bentuk organisasi yang membuatnya berbeda.
Menurut Burns dan Stalker ada dua jenis organisasi, yaitu: organik dan mekanistik, dimana keduanya juga sama-sama efektif. Bentuk mekanistik sangat efektif pada kondisi pasar yang stabil, sementara bentuk organik sangat efektif pada kondisi pasar dan teknologi yang berubah dengan cepat. Dalam penelitian yang dilakukan Hall menemukan bahwa ada variasi struktur internal dalam organisasi, dimana ada kecenderungan bahwa departemen penelitian dan pengembangan menggunakan bentuk organik, sedangkan departemen produksi menggunakan bentuk mekanistik.
Dalam proposisi yang diajukan oleh Lawrence dan Lorsch, ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam masalah desain organisasi, antara lain: pertama, untuk mengorganisasi setiap aktivitas dengan cara yang baik dimana agar aktivitas dapat mencapai kinerja yang efektif. Aspek kedua adalah untuk menyediakan integrasi dari berbagai aktivitas yang berbeda untuk mencapai penyelesaian tugas secara menyeluruh. Studi empiris menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan manufaktur yang sukses selalu menggunakan struktur internal yang bervariasi tergantung pada variasi tingkat prediktabilitas terhadap aktivitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat prediktabilitas dari aktivitas sebagai salah satu variable dasar yang mempengaruhi pemilihan bentuk organisasi. Atau dengan kata lain, cara yang terbaik untuk mengorganisasi adalah menyatukan ketidakpastian dan perbedaan dari aktivitas dasar yang dilakukan oleh unit-unit organisasi.
Proposisi diatas yang menjadi salah satu dasar penulisan artikel ini, dimana semakin besar ketidakpastian dari tugas, semakin besar jumlah informasi yang harus diproses oleh pangambil keputusan dalam kaitannya untuk mencapai kinerja yang telah ditentukan. Jika tugas tersebut dapat dengan mudah dipahami maka lebih mudah untuk direncanakan kembali, sedangkan apabila tugas tersebut tidak dipahami maka sebelum keputusan dijalannya, pengambil keputusan membutuhkan pengetahuan yang lebih banyak tentang perubahan alokasi sumber daya, jadwal, dan prioritas-prioritas.
Dalam kaitannya dengan ketidakpastian, maka variasi dari bentuk perusahaan berkaitan dengan variasi strategi yang digunakan perusahaan untuk: pertama, meningkatkan kemampuan untuk menrencanakan kembali; kedua, meningkatkan fleksibilitas untuk mengadaptasi ketidakmampuan dalam melakukan perencanaan kembali; ketiga, menurunkan tingkatan kinerja yang diinginkan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Strategi mana yang akan dipilih tergantung pada seberapa besar tingkat ketidakpastian dan biaya yang harus ditanggung akibat dari strategi tersebut.
Adapun ketidakpastian itu sendiri didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas dan jumlah informasi yang telah dimiliki oleh organisasi. Sehingga ketidakpastian tugas adalah akibat dari kombinasi dari suatu tugas yang spesifik dan suatu spesifik organisasi. Sedangkan jumlah informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu tugas adalah fungsi dari: pertama, variasi dari output yang dihasilkan yang diukur dengan jumlah variasi dari produk-produk, jasa atau klien; kedua, jumlah variasi input yang dipergunakan yang diukur dengan variasi jumlah spesialis dalam suatu proyek, variasi jumlah pusat mesin dalam dalam pabrik; ketiga, tingkat kesulitas tujuan atau kinerja yang diukur dengan beberapa kriteria efisiensi seperti persentase utilisasi mesin.
Selanjutnya tujuan kita adalah untuk menyusun suatu organisasi sebagai information-process networks dan untuk menjelaskan mengapa dan melalui apa mechanism uncertainty dan informasi berkaitan dengan struktur organisasi. Sehingga masalah desain organisasi adalah untuk menciptakan mekanisme dimana integrasi dari perilaku-perilaku dapat tercapai pada seluruh kelompok interdependen. Organisasi juga harus melakukan strategi untuk memproses sejumlah besar informasi yang diperlukan untuk menjaga tingkat kinerjanya.
Metode yang paling mudah dalam mengkoordinasi saling ketergantungan antar aktivitas adalah untuk mengspesifikasi perilaku yang dibutuhkan sebelumnya ketika mereka memutuskan untuk menetapakn aturan (rules) dan program. Peranan utama dari aturan adalah menghilangkan kebutuhan untuk komunikasi lebih jauh antar subunit. Aturan dan program juga menghilangkan kebutuhan untuk memperlakukan setiap situasi sebagai hal yang baru. Jumlah komunikasi dan pengambilan keputusan dikurangi setiap saat satu situasi dilakukan secara berulang-ulang. Aturan juga menyebabkan kestabilan pada operasi perusahaan. Pada saat karyawan keluar dan masuk, aturan organisasi tetap menyediakan satu memori untuk menangani situasi yang rutin terjadi. Namun penggunaan aturan dan program sebagai alat koordinasi sangat terbatas. Aturan dan program hanya terbatas pada pekerjaan yang memiliki situasi yang dapat diantisipasi sebelumnya, sehingga respon yang tepat dapat diidentifikasi. Ketika perusahaan menghadapi situasi yang baru dan berbeda, penggunaan aturan harus ditambah dengan alat integrasi yang lain.
Ketika suatu respon dikembangkan untuk situasi yang baru, maka respon tersebut harus mempertimbangkan seluruh aktivitas yang terpengaruh. Dalam situasi seperti ini, aktivitas mengumpulkan informasi dan menyelesaikan masalah menjadi sangat penting, untuk menangangi aktivitas ini diperlukan peran manajerial. Ketika terjadi kejadian yang tidak terantisipasi maka masalah tersebut akan ditangani oleh manajer yang memiliki informasi untuk membuat keputusan baru. Sebagai tambahan hirarki tersebut juga hirarki wewenang dan kekuasaan untuk memberi reward, sehingga keputusan dari manajer efektif menentukan perilaku pelaksana tugas. Hirarki wewenang dilakukan berdasar pada exception. Atau dengan kata lain, apabila terjadi situasi yang baru dimana tidak ada respon yang direncanakan sebelumnya maka diserahkan pada hirarki yang lebih tinggi untuk memperoleh ijin pembuatan respon yang baru. Hirarki dilakukan dalam kaitannya sebagai tambahan bukan mengganti penggunaan aturan. Maksudnya adalah pada kondisi yang dapat direncanakan dan dilakukan berulang-ulang maka akan digunakan aturan, sednagkan apabila ada situasi baru dan unik akan digunakan hirarki. Kombinasi keduanya akan menjamin respon organisasi yang terkoordinasi dan terintegrasi pada berbagai situasi yang dihadapi oleh organisasi. Kelemahan dari sistem komunikasi hirarki adalah bahwa setiap link memiliki kapasitas tertentu untuk menangani informasi. Ketika ketidakpastian aktivitas meningkat, semakin banyak exception yang harus diserahkan pada hirarki yang lebih tinggi, maka hirarki menjadi semakin overload. Sehingga proses transfer informasi baik keatas maupun kebawah menjadi semkain lambat, maka organisasi harus mengembangkan proses untuk menambah ‘aturan’ dan ‘hirarki’.
Pada kondisi seperti diatas, dimana terjadi overload pada hirarki, maka lebih efisien apabila mengembalikan keputusan pada point of action dimana informasi tersebut berasal. Namun yang menjadi pertanyaan adalah “apakah karyawan akan secara konsisten memilih respon yang tepat pada perkerjaan yang terkait dengan situasi baru yang mereka hadapi?”. Untuk meningkatkan probabilitas bahwa karyawan akan memilih perilaku yang tepat, maka organisasi akan menggeser pengendalian dari supervisor dan pengawas pada pengendalian berdasarkan pemilihan pekerja yang bertanggung jawab. Pekerja yang memiliki keahlian dan sikap yang sesuai akan dipilih. Namun profesionalisasi seperti diatas tidaklah cukup untuk pengambilan keputusan ditingkat yang lebih rendah. Alasannya adalah adanya saling ketergantungan, dimana alternatif yang berdasarkan profesional atau standar keahlian bukanlah yang terbaik bagi organisasi secara keseluruhan. Atau dengan kata lain alternatif-alternatif yang lebih disukai menurut perspektif lokal atau departemen mungkin bukan yang lebih disukai berdasarkan perspektif global. Untuk mengatasi masalah tersebut maka organisasi melakukan proses untuk menentukan tujuan atau target yang melindungi saling ketergantungan tersebut. Penetapan tujuan tersebut membantu mengkoordinasi saling ketergantungan antar aktivitas dan masih memperbolehkan adanya keleluasaan pada tingkat aktivitas lokal. Disamping menentukan perilaku spesifik melalui aturan dan program, organisasi menentukan target yang harus dicapai dan memperbolehkan karyawan untuk memilih perilaku yang sesuai untuk mencapai target.
Kemampuan dari suatu organisasi untuk berhasil mengkoordinasi aktivitasnya dengan menetapkan tujuan (goal setting), hirarki dan aturan (rules) tergantung pada kombinasi dari exception yang terjadi dan kapasitas dari hirarki untuk menanganinya. Ketika ketidakpastian tugas meningkat, jumlah exception meningkat sampai hirarki overload, selanjutnya organisasi harus menerapkan strategi desain baru. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain: mengurangi jumlah informasi yang diproses dan meningkatkan kapasitas untuk menangani lebih banyak informasi. Dampak yang ditimbulkan dari strategi tersebut adalah untuk mengurangi jumlah kasus exceptional yang diserahkan keatas melalui saluran hirarki.
Mencipatakan slack resources adalah organisasi mengurangi jumlah exception yang muncul dengan mengurangi tingkat kinerja yang diinginkan, seperti contoh pada desain sayap pesawat terbang: jadwal, kelonggaran berat atau man/hour dapat ditingkatkan. Sebagai konsekuensi penerapan strategi ini adalah adanya tambahan biaya pada organisasi atau pelanggan. Jumlah slack yang dibutuhkan tergantung pada tingkat ketidakpastian tugas.
Menciptakan self-contained task adalah strategi untuk mengurangi jumlah informasi yang diproses dengan merubah bentuk desain tugas fungsional menjadi bentuk dimana setiap kelompok memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugasnya.
Investasi pada sistem informasi vertikal adalah strategi dimana perusahaan melakukan investasi pada mekanisme yang memperkenankannya untuk memproses informasi yang dibutuhkan selama menyelesaikan tugas tanpa terjadinya overload pada jalur komunikasi hirarki. Menciptakan komunikasi lateral adalah strategi yang secara selektif menerapkan proses keputusan lateral yang memutus jalur wewenang. Strategi ini cenderung untuk menggeser tingkat pengambilan keputusan ke bawah dimana informasi tersebut berada dari pada menaikkannya ke hirarki yang lebih tinggi.
Dasar dari pembuatan model tersebut sebenarnya adalah teori kontingensi yang mendasarkan pada dua kesimpulan yang berasal dari studi empiris perusahan-perusahaan besar, antara lain: pertama, tidak ada satu cara yang terbaik dalam mengorganisasi; kedua, setiap cara dalam mengorganisasi tidak ada yang memiliki efektifitas sama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa efektifitas setiap organisasi yang berbeda-beda tidak bersifat random, namun bentuk organisasi yang membuatnya berbeda.
Menurut Burns dan Stalker ada dua jenis organisasi, yaitu: organik dan mekanistik, dimana keduanya juga sama-sama efektif. Bentuk mekanistik sangat efektif pada kondisi pasar yang stabil, sementara bentuk organik sangat efektif pada kondisi pasar dan teknologi yang berubah dengan cepat. Dalam penelitian yang dilakukan Hall menemukan bahwa ada variasi struktur internal dalam organisasi, dimana ada kecenderungan bahwa departemen penelitian dan pengembangan menggunakan bentuk organik, sedangkan departemen produksi menggunakan bentuk mekanistik.
Dalam proposisi yang diajukan oleh Lawrence dan Lorsch, ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam masalah desain organisasi, antara lain: pertama, untuk mengorganisasi setiap aktivitas dengan cara yang baik dimana agar aktivitas dapat mencapai kinerja yang efektif. Aspek kedua adalah untuk menyediakan integrasi dari berbagai aktivitas yang berbeda untuk mencapai penyelesaian tugas secara menyeluruh. Studi empiris menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan manufaktur yang sukses selalu menggunakan struktur internal yang bervariasi tergantung pada variasi tingkat prediktabilitas terhadap aktivitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat prediktabilitas dari aktivitas sebagai salah satu variable dasar yang mempengaruhi pemilihan bentuk organisasi. Atau dengan kata lain, cara yang terbaik untuk mengorganisasi adalah menyatukan ketidakpastian dan perbedaan dari aktivitas dasar yang dilakukan oleh unit-unit organisasi.
Proposisi diatas yang menjadi salah satu dasar penulisan artikel ini, dimana semakin besar ketidakpastian dari tugas, semakin besar jumlah informasi yang harus diproses oleh pangambil keputusan dalam kaitannya untuk mencapai kinerja yang telah ditentukan. Jika tugas tersebut dapat dengan mudah dipahami maka lebih mudah untuk direncanakan kembali, sedangkan apabila tugas tersebut tidak dipahami maka sebelum keputusan dijalannya, pengambil keputusan membutuhkan pengetahuan yang lebih banyak tentang perubahan alokasi sumber daya, jadwal, dan prioritas-prioritas.
Dalam kaitannya dengan ketidakpastian, maka variasi dari bentuk perusahaan berkaitan dengan variasi strategi yang digunakan perusahaan untuk: pertama, meningkatkan kemampuan untuk menrencanakan kembali; kedua, meningkatkan fleksibilitas untuk mengadaptasi ketidakmampuan dalam melakukan perencanaan kembali; ketiga, menurunkan tingkatan kinerja yang diinginkan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Strategi mana yang akan dipilih tergantung pada seberapa besar tingkat ketidakpastian dan biaya yang harus ditanggung akibat dari strategi tersebut.
Adapun ketidakpastian itu sendiri didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas dan jumlah informasi yang telah dimiliki oleh organisasi. Sehingga ketidakpastian tugas adalah akibat dari kombinasi dari suatu tugas yang spesifik dan suatu spesifik organisasi. Sedangkan jumlah informasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu tugas adalah fungsi dari: pertama, variasi dari output yang dihasilkan yang diukur dengan jumlah variasi dari produk-produk, jasa atau klien; kedua, jumlah variasi input yang dipergunakan yang diukur dengan variasi jumlah spesialis dalam suatu proyek, variasi jumlah pusat mesin dalam dalam pabrik; ketiga, tingkat kesulitas tujuan atau kinerja yang diukur dengan beberapa kriteria efisiensi seperti persentase utilisasi mesin.
Selanjutnya tujuan kita adalah untuk menyusun suatu organisasi sebagai information-process networks dan untuk menjelaskan mengapa dan melalui apa mechanism uncertainty dan informasi berkaitan dengan struktur organisasi. Sehingga masalah desain organisasi adalah untuk menciptakan mekanisme dimana integrasi dari perilaku-perilaku dapat tercapai pada seluruh kelompok interdependen. Organisasi juga harus melakukan strategi untuk memproses sejumlah besar informasi yang diperlukan untuk menjaga tingkat kinerjanya.
Metode yang paling mudah dalam mengkoordinasi saling ketergantungan antar aktivitas adalah untuk mengspesifikasi perilaku yang dibutuhkan sebelumnya ketika mereka memutuskan untuk menetapakn aturan (rules) dan program. Peranan utama dari aturan adalah menghilangkan kebutuhan untuk komunikasi lebih jauh antar subunit. Aturan dan program juga menghilangkan kebutuhan untuk memperlakukan setiap situasi sebagai hal yang baru. Jumlah komunikasi dan pengambilan keputusan dikurangi setiap saat satu situasi dilakukan secara berulang-ulang. Aturan juga menyebabkan kestabilan pada operasi perusahaan. Pada saat karyawan keluar dan masuk, aturan organisasi tetap menyediakan satu memori untuk menangani situasi yang rutin terjadi. Namun penggunaan aturan dan program sebagai alat koordinasi sangat terbatas. Aturan dan program hanya terbatas pada pekerjaan yang memiliki situasi yang dapat diantisipasi sebelumnya, sehingga respon yang tepat dapat diidentifikasi. Ketika perusahaan menghadapi situasi yang baru dan berbeda, penggunaan aturan harus ditambah dengan alat integrasi yang lain.
Ketika suatu respon dikembangkan untuk situasi yang baru, maka respon tersebut harus mempertimbangkan seluruh aktivitas yang terpengaruh. Dalam situasi seperti ini, aktivitas mengumpulkan informasi dan menyelesaikan masalah menjadi sangat penting, untuk menangangi aktivitas ini diperlukan peran manajerial. Ketika terjadi kejadian yang tidak terantisipasi maka masalah tersebut akan ditangani oleh manajer yang memiliki informasi untuk membuat keputusan baru. Sebagai tambahan hirarki tersebut juga hirarki wewenang dan kekuasaan untuk memberi reward, sehingga keputusan dari manajer efektif menentukan perilaku pelaksana tugas. Hirarki wewenang dilakukan berdasar pada exception. Atau dengan kata lain, apabila terjadi situasi yang baru dimana tidak ada respon yang direncanakan sebelumnya maka diserahkan pada hirarki yang lebih tinggi untuk memperoleh ijin pembuatan respon yang baru. Hirarki dilakukan dalam kaitannya sebagai tambahan bukan mengganti penggunaan aturan. Maksudnya adalah pada kondisi yang dapat direncanakan dan dilakukan berulang-ulang maka akan digunakan aturan, sednagkan apabila ada situasi baru dan unik akan digunakan hirarki. Kombinasi keduanya akan menjamin respon organisasi yang terkoordinasi dan terintegrasi pada berbagai situasi yang dihadapi oleh organisasi. Kelemahan dari sistem komunikasi hirarki adalah bahwa setiap link memiliki kapasitas tertentu untuk menangani informasi. Ketika ketidakpastian aktivitas meningkat, semakin banyak exception yang harus diserahkan pada hirarki yang lebih tinggi, maka hirarki menjadi semakin overload. Sehingga proses transfer informasi baik keatas maupun kebawah menjadi semkain lambat, maka organisasi harus mengembangkan proses untuk menambah ‘aturan’ dan ‘hirarki’.
Pada kondisi seperti diatas, dimana terjadi overload pada hirarki, maka lebih efisien apabila mengembalikan keputusan pada point of action dimana informasi tersebut berasal. Namun yang menjadi pertanyaan adalah “apakah karyawan akan secara konsisten memilih respon yang tepat pada perkerjaan yang terkait dengan situasi baru yang mereka hadapi?”. Untuk meningkatkan probabilitas bahwa karyawan akan memilih perilaku yang tepat, maka organisasi akan menggeser pengendalian dari supervisor dan pengawas pada pengendalian berdasarkan pemilihan pekerja yang bertanggung jawab. Pekerja yang memiliki keahlian dan sikap yang sesuai akan dipilih. Namun profesionalisasi seperti diatas tidaklah cukup untuk pengambilan keputusan ditingkat yang lebih rendah. Alasannya adalah adanya saling ketergantungan, dimana alternatif yang berdasarkan profesional atau standar keahlian bukanlah yang terbaik bagi organisasi secara keseluruhan. Atau dengan kata lain alternatif-alternatif yang lebih disukai menurut perspektif lokal atau departemen mungkin bukan yang lebih disukai berdasarkan perspektif global. Untuk mengatasi masalah tersebut maka organisasi melakukan proses untuk menentukan tujuan atau target yang melindungi saling ketergantungan tersebut. Penetapan tujuan tersebut membantu mengkoordinasi saling ketergantungan antar aktivitas dan masih memperbolehkan adanya keleluasaan pada tingkat aktivitas lokal. Disamping menentukan perilaku spesifik melalui aturan dan program, organisasi menentukan target yang harus dicapai dan memperbolehkan karyawan untuk memilih perilaku yang sesuai untuk mencapai target.
Kemampuan dari suatu organisasi untuk berhasil mengkoordinasi aktivitasnya dengan menetapkan tujuan (goal setting), hirarki dan aturan (rules) tergantung pada kombinasi dari exception yang terjadi dan kapasitas dari hirarki untuk menanganinya. Ketika ketidakpastian tugas meningkat, jumlah exception meningkat sampai hirarki overload, selanjutnya organisasi harus menerapkan strategi desain baru. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain: mengurangi jumlah informasi yang diproses dan meningkatkan kapasitas untuk menangani lebih banyak informasi. Dampak yang ditimbulkan dari strategi tersebut adalah untuk mengurangi jumlah kasus exceptional yang diserahkan keatas melalui saluran hirarki.
Mencipatakan slack resources adalah organisasi mengurangi jumlah exception yang muncul dengan mengurangi tingkat kinerja yang diinginkan, seperti contoh pada desain sayap pesawat terbang: jadwal, kelonggaran berat atau man/hour dapat ditingkatkan. Sebagai konsekuensi penerapan strategi ini adalah adanya tambahan biaya pada organisasi atau pelanggan. Jumlah slack yang dibutuhkan tergantung pada tingkat ketidakpastian tugas.
Menciptakan self-contained task adalah strategi untuk mengurangi jumlah informasi yang diproses dengan merubah bentuk desain tugas fungsional menjadi bentuk dimana setiap kelompok memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugasnya.
Investasi pada sistem informasi vertikal adalah strategi dimana perusahaan melakukan investasi pada mekanisme yang memperkenankannya untuk memproses informasi yang dibutuhkan selama menyelesaikan tugas tanpa terjadinya overload pada jalur komunikasi hirarki. Menciptakan komunikasi lateral adalah strategi yang secara selektif menerapkan proses keputusan lateral yang memutus jalur wewenang. Strategi ini cenderung untuk menggeser tingkat pengambilan keputusan ke bawah dimana informasi tersebut berada dari pada menaikkannya ke hirarki yang lebih tinggi.
Mengapa Bank Harus Ada?
Dalam suatu kondisi dunia yang ideal dimana pihak-pihak yang membutuhkan dana (debitors) dan pihak-pihak yang kelebihan dana (depositors) bertemu secara langsung tanpa lembaga perantara, sehingga diharapkan dapat menghemat biaya intermediasi dan memaksimalkan keuntungan masing-masing pihak. Namun kondisi di atas tidak selamanya menguntungkan bagi kedua belah pihak, baik bagi depositor maupun debitor. Memang secara nyata dapat dihitung bahwa kedua belah pihak akan dapat menghemat dari sisi biaya intermediasi, namun disisi lain muncul beberapa jenis biaya yang diakibatkan ketiadaan lembaga perantara/intermediasi. Biaya tersebut antara lain: pertama, biaya informasi adalah biaya yang muncul akibat ketidakmampuan depositor untuk mencari debitor yang tepat atau sebaliknya ketidakmampuan debitor untuk mencari depositor yang paling tepat. Akibat kurangnya informasi baik pada pihak depositor dan debitor menyebabkan kedua belah pihak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mencari informasi mengenai depositor atau debitor yang paling tepat.
Ada empat jenis biaya informasi yang muncul dari ketiadaan lembaga keuangan: pertama, biaya pencarian (search cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari informasi, memilih, bertemu, bernegosiasi dan pembuatan kontrak dengan debitor. Kedua, adalah biaya verifikasi (Verification Cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi data-data yang disampaikan oleh debitor karena adanya asimetri informasi antara depositor dan debitor. Keasimetrisan informasi akan dapat menimbulkan adverse selection dan pada akhirnya dapat menimbulkan inefficient allocation. Ketiga, Biaya monitoring (Monitoring Cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan berkaitan dengan aktivitas pengawasan yang dilakukan oleh depositor terhadap debitor setelah kontrak ditandatangani. Untuk meyakinkan depositor bahwa debitor akan berperilaku sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dan juga dapat menjalankan seluruh kewajibannya dengan baik maka perlu dilakukan suatu pengawasan yang baik. Keempat, biaya penegakan/renegosiasi (Renegotiation/ Enforcement cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan jika debitor tidak dapat menjalankan kewajiban sesuai kontrak yang telah disepakai kepada depositor. Proses renegosiasi pinjaman atau bahkan penjualan jaminan akan menghabiskan biaya dan waktu yang cukup banyak.
Sehingga tidak seperti individual depositor, lembaga keuangan dapat mengumpulkan informasi secara efisien karena adanya informational economies of scope. Dengan berbagai produk yang dimiliki lembaga keuangan dapat menikmati joint information cost. Disamping itu dengan memiliki pool assets yang besar akan dapat membuat lembaga keuangan mendiversifikasikan risiko dengan lebih baik sehingga risiko kebangkrutan dapat diminimalisasi dan selanjutnya akan dapat meminimalkan biaya kebangkrutan.
Kedua, perbedaan liquidity preferences antara depositor dan debitor menyebabkan kedua belah pihak sulit bertransaksi tanpa adanya lembaga perantara/intermediasi. Maksudnya adalah bahwa debitor sebagai pihak yang membutuhkan dana umumnya akan menggunakan dana tersebut untuk investasi yang sifatnya jangka panjang, namun disisi lain umumnya depositor menginginkan dananya kembali dalam jangka yang relatif pendek. Sehingga lembaga keuangan menjalankan fungsi sebagai lembaga intermediary antara depositor dan debitor dengan cara mentransformasi aset yang tidak likuid menjadi kewajiban yang likuid. Dengan memiliki banyak depositor dan debitor bank akan dapat menjaga ketersediaan kas bagi kedua belah pihak, karena ketersediaan kas merupakan fungsi dan salah satu kunci sukses lembaga keuangan dalam menjalankan bisnisnya
Secara umum dapat disimpulkan bahwa ketiadaan lembaga keuangan dalam proses intermediasi tidak secara langsung menghilangkan biaya intermediasi bagi depositor dan debitor. Sebaliknya ketiadaan lembaga keuangan akan mengakibatkan munculnya biaya informasi dan biaya yang timbul akibat perbedaan liquidity preferences antara depositor dan debitor. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh lembaga keuangan untuk mencari informasi secara efisien menyebabkan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan akan lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh depositor. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan lembaga keuangan yang menjalankan fungsi intermediasi antara depositor sebagai pihak yang kelebihan dana dan debitor sebagai pihak yang membutuhkan dana masih sangat dibutuhkan keberadaannya.
Ada empat jenis biaya informasi yang muncul dari ketiadaan lembaga keuangan: pertama, biaya pencarian (search cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk mencari informasi, memilih, bertemu, bernegosiasi dan pembuatan kontrak dengan debitor. Kedua, adalah biaya verifikasi (Verification Cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk memverifikasi data-data yang disampaikan oleh debitor karena adanya asimetri informasi antara depositor dan debitor. Keasimetrisan informasi akan dapat menimbulkan adverse selection dan pada akhirnya dapat menimbulkan inefficient allocation. Ketiga, Biaya monitoring (Monitoring Cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan berkaitan dengan aktivitas pengawasan yang dilakukan oleh depositor terhadap debitor setelah kontrak ditandatangani. Untuk meyakinkan depositor bahwa debitor akan berperilaku sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dan juga dapat menjalankan seluruh kewajibannya dengan baik maka perlu dilakukan suatu pengawasan yang baik. Keempat, biaya penegakan/renegosiasi (Renegotiation/ Enforcement cost) adalah biaya yang harus dikeluarkan jika debitor tidak dapat menjalankan kewajiban sesuai kontrak yang telah disepakai kepada depositor. Proses renegosiasi pinjaman atau bahkan penjualan jaminan akan menghabiskan biaya dan waktu yang cukup banyak.
Sehingga tidak seperti individual depositor, lembaga keuangan dapat mengumpulkan informasi secara efisien karena adanya informational economies of scope. Dengan berbagai produk yang dimiliki lembaga keuangan dapat menikmati joint information cost. Disamping itu dengan memiliki pool assets yang besar akan dapat membuat lembaga keuangan mendiversifikasikan risiko dengan lebih baik sehingga risiko kebangkrutan dapat diminimalisasi dan selanjutnya akan dapat meminimalkan biaya kebangkrutan.
Kedua, perbedaan liquidity preferences antara depositor dan debitor menyebabkan kedua belah pihak sulit bertransaksi tanpa adanya lembaga perantara/intermediasi. Maksudnya adalah bahwa debitor sebagai pihak yang membutuhkan dana umumnya akan menggunakan dana tersebut untuk investasi yang sifatnya jangka panjang, namun disisi lain umumnya depositor menginginkan dananya kembali dalam jangka yang relatif pendek. Sehingga lembaga keuangan menjalankan fungsi sebagai lembaga intermediary antara depositor dan debitor dengan cara mentransformasi aset yang tidak likuid menjadi kewajiban yang likuid. Dengan memiliki banyak depositor dan debitor bank akan dapat menjaga ketersediaan kas bagi kedua belah pihak, karena ketersediaan kas merupakan fungsi dan salah satu kunci sukses lembaga keuangan dalam menjalankan bisnisnya
Secara umum dapat disimpulkan bahwa ketiadaan lembaga keuangan dalam proses intermediasi tidak secara langsung menghilangkan biaya intermediasi bagi depositor dan debitor. Sebaliknya ketiadaan lembaga keuangan akan mengakibatkan munculnya biaya informasi dan biaya yang timbul akibat perbedaan liquidity preferences antara depositor dan debitor. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh lembaga keuangan untuk mencari informasi secara efisien menyebabkan biaya yang dikeluarkan oleh lembaga keuangan akan lebih kecil dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh depositor. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan lembaga keuangan yang menjalankan fungsi intermediasi antara depositor sebagai pihak yang kelebihan dana dan debitor sebagai pihak yang membutuhkan dana masih sangat dibutuhkan keberadaannya.
Langganan:
Postingan (Atom)